Kamis, 16 Agustus 2012

Ngabuburit Bareng Bumi Sandiwara 7, Tahun 2012






Ngabuburit kembali di gelar oleh Bumi Sandiwara dan teater Cermin yang kali ini digelar ke tujuh kalinya yang bertajuk NGABUBURIT BARENG BUMI SANDIWARA dan TEATER CERMIN 7, pada tahun 2012 ini kegiatan ngabuburit diadakan lebih lama yaitu tiga hari pertunjukan pada 10,11, 12 Agustus 2012, hal tersebut dilakukan demi kebutuhan penonton yang semakin melonjak setiap tahunya. sekitar 150 penonton memadati gedung UDKP cicurug yang letaknya tepat di depan masjid agung Al-Huriah.

naskah Longser K-POP (Kutukan Pedang Ompong) dipilih oleh Bumi sandiwara dalam gelaran Ngabuburit tahun ini, naskah yang di tuls dan di sutradarai oleh Ari Irawandi Gusmi ini terkesan satir terhadap perkembangan generasi muda yng tergila-gila akan budaya Korea naun Ari berhasil membungkus naskah ini dengan begitu menarik.

ada beberapa pengisi acara yang ikut meramaikan gelaran ngabuburit pada tahun ini, dintaranya adalah :
-Diksastrasia Unpak Bogor (Musikalisasi Puisi)
-Senandung Bumi UMMI (Musikalisasi Puisi)
-Kang Agung sarjana Tari UPI Bandung (Tari)
-Criss Avian (Sulap)
-Stand Up Comedy Sukabumi
-Eksatrakulikuler Seni Smansa Cicurug

Ngabuburit merupakan satu-satunya kegiatan kesenian yang di pertunjukan untuk mengantarkan penontonya menuju buka puasa di Kab. Sukabumi yang terpublikasikan, namun sama seperti tahun-tahun sebelumnya dukungan pemerintah tidaklah signifikan dalam kegiatan ini, semuanya di kerjakan dengan modal sendiri, walau dibantu oleh beberapa sponsor, namun rasanya tidak terlalu memberikan kontribusi yang besar.

acara yang sudah diusung semenjak 2006 ini terus menjadi lahan kreatifitas dan ibadah sosial bagi Bumi Sandiwara, semoga Tuhan terus meridoi apa yang kita semua lakukan

Achmad Dayari

Selasa, 14 Agustus 2012

dokumentasi ngabuburit 7




KEMERIAHAN PERTUNJUKAN "K-POP"





KEMERIAHAN PERTUNJUKAN "K-POP" (KUTUKAN PEDANG OMPONG)
karya & sutradara : Ari Irawandi GusmI

dalam gelaran Ngabuburit Bareng Bumi Snadiwara dan Teater Cermin 7

Sebuah pertunjukan Longser “Ayena” 
Yang dipadu dengan kemajuan teknologi 
seperti Film, Kabaret & Musik modern, 

Kisah sederhana tentang manusia Indonesia masa kini 
yang tergila-gila akan budaya Korea,
ketika manusia Indonesia lupa akan budayanya 
yang begitu kaya dan beragam
satir yang dipertunjukan dengan penggambaran 
Jangdi/jangdem sebagai orang korea yang berhasil mengadu domba
sepasang saudara yaitu Aya dan Raya, sehingga terjadi perpecahan diantara keduanya
dan bertolak dari kutukan sebuah pedang (K-POP Kutukan Pedang Ompong)
yang kelak pedang tersebut akan menghancurkan sebuah peradaban 
jika pedang tersebut tidak digunakan sebagai mana mestinya, 
Jangdi/Jangdem pun berhasil menguak kutukan pedang tersebut 
dengan membawa misi untuk menghacurkan kerajaan Sukanyalindung 
agar tercapai tujuannya yaitu menguasai kerajaan dan menghancurkan budaya yang ada 
serta menggantinya dengan budaya Baru yaitu budaya K-POP (Korea Pop)

“kita orang Indonesia kaya akan Seni Budaya Mengapa budaya Negeri lain yang meraja”

ELING DULUR
CINTAI DAN LESTARIAKAN SENI BUDAYA BANGSA BUKAN BUDAYA NEGERI TETANGGA

Jumat, 10 Agustus 2012


Ngabuburit 7
BUMI SANDIWARA

Dalam ruang yeng sempit serta kekangan sang waktu,lambat laut  mulai menunjukkan kekuasaanya.  Dari waktu yang  kembali, sekolompok muda mudi menunjukkan tidak matinya daya pikir dari keresahan yang bergejolak dalam hati , sekolompok muda-mudi tersebut mengakui dirinya adalah bagian  tubuh yang bernama bumi sandiwara, bumi sandiwara kembali hadir dari kesibukan malam dan siang yang tak pernah berpisah  lalu mencoba  menunjukkan keresahan atas sebuah problematika yang terjadi ditengah kehidupan yang heterogen, kehidupan yang ambigu dan penuh  pernak-pernik serta teka teki yang masih dicari atau mencari akan sebuah jawaban dari pertunjukkan alam yang tak henti  atau tetap dilupakan oleh mata polos akan sebuah ketidak pastian sebuah jawaban  tak murni
Bumi sandiwara terus berpacu mencoba mengheningkan kesibukan malam, gelapnya cahaya bulan dan kicauan burung gagak serta elang dalam sangkar emasnya, bumi sandiwara terus mencari keindahaan yang tersimpan dalam lumpur,  menghadirkan estetik  kuno menjadi indah di kuasa zaman yang serba canggih  dan merebut cahaya indah dari kekuasaan bayangan hitam yang hidup dari percikan cahaya bulan
Bumi sandiwara menghadirkan sebuah lakon yang berjudul K-POP kepanjangan dari Kutukan pedang ompong, naskah yang disutradarai oleh ari irawandi ini menghadirkan sebuah fenomena yang terjadi dan hidup belakangan ini,fenomena itu menghasilkan  hampir 65 % mahluk hidup di antero dunia ini mengiblatkan matanya terhadap kehidupan yang disuguhkan oleh kehidupan lain atau ciri khas yang bukan miliknya hingga  tidak sedikit manusia lupa akan tradisi serta keaslian yang dimiliki secara hakiki, diberikan oleh sang maha sutradara.  Naskah K-POP  mengjak kita agar mengerti akan sebuah  kisah yang penuh intrik akan sebuah analogi kehidupan yang mengakar dimata yang polos hingga menghasilkan keindahaan, sang sutradara mengajak hal-hal baru yang slalu dilandasi oleh tradisi, hingga menjadikan sebuah paradigma baru bagi penikmatnya, sang sutradara masih mengusung tradisi karena tradisi adalah tubuh dari keaslian diri ( bumi sandiwara ) yang hidup secara hakiki dalam diri yang telah mengenalnya, naskah yang dihadirkan bumi sandiwara melibatkan kuasa jaman serta dipadukkan dengan kehidupan dimasa lampau ,mencoba mengajak pelakunya(secara umum ) menciptkan  konflik yang disembunyikan oleh prilaku dari simbol-simbol kepolosan serta kelucuan secara objektif, dan membuka lebar kelopak matefora sarta secerca ironi yang hidup dan mengakar dalam mata dan tubuh yang polos akan sebuah subjek.  
Suguhan dari materi yang memurnikan dirinya, melibatkan keringat akan sebuah hasil akhir yang akan disuguhkan dari sekian banyak problematika yang hidup diantara kuping dan mata yang ironi dan  masih berkeliaran disemak semak tubuh yang sulit diraba, bumi sandiwara masih mengajak kita semua untuk mengenal keterbatasan waktu dan melebarkan sayap tradisi agar tidak mati dan kita masih mengenal siapa diri kita yang sebenarnya.
                                                                                                                                    aH

Senin, 11 Juni 2012

Tentang elegi musim panas


Tentang Eleagi musim panas

Membaca dalam rangka mencoba untuk memahami lakon elegi musim panas karya candra kuda pawana seperti cermin dalam kesendirian yang menggantung dalam kesendirian, pada saat tubuh kita disetubuhi rumput liar sementara orang- orang sibuk diluar dengan berjuta aktivitasnya seakan mengasingkan , aku begitu tergoda,  sedikit keberanian yang boleh jadi sangat diipaksakan, memaksa kita untuk berdiri dihadapan cermin, kejujuranpun datang dan berkata kita sedang “sakit” terasa pahit bagi kita untuk memandangnya. Maka, seandainya refleksi diri ini berhasil mengatasi kebisuan “dunia batin” dengan segenap perlambangan visual dan non visual serta estitika yang tersimpan dalam setiap lakon, sesunguhnya  lakon adalah cerminan sosial bagi lingkunganya. 
Kelopak metafora dari untaian kata-kata sastra, nyatalah bahwa intens dan teolog sebuah lakon semestinya menukik tajam kearah penyingkapan hingga lapis-lapis paling dalam akan makna kebenaran dimana didalamnya manusia menjadi pelaku yang sebenarnya dengan segenap keagungan deritanya, diatas kebun obyektif yang dibumbui subyektivitas.
Elegi musim panas karya Candra kudapawana, membawa kita pada memori romansa yang halus dan penuh keuinikan namun diringi emosi beralaskan sandiwara, manusia pada zaman sekarang ini telah sejak lama mengalami revolusi  oleh kesadaran palsu yang meyelimuti seluruh esensi dari realitas sosial melalui proses ide secara besar-besaran dan menjadikan manusia tak ubahnya seonggok materi tanpa jiwa, tanpa perasaan, pemberhalaan total terhadap materi itu terbukti pada prilaku niki yang menjadi salah satu aktor antagonis, yang bisa mengetepikan pada perubahaan  budaya yang mengakibatkan manusia masuk kedalam kubangan segala macam kemunafikan, keterpecahaan kepribadiaan keserakahan, ambisi yang menghalalkan segala cara, Niki tidak mengalami dirinya sebagai pengemban aktif kekuatan-kekuatan miliknya namun melainkan sebagai “benda” yang miskin dan tergantung pada kekuatan diluar dirinya, Niki menjadi korban  eksklusif yang mengatasnamakan nafsunya untuk memburu uang dan termakan oleh ambisi-ambisi materi. Dalam naskah ini sudah jelas uang telah menjadi berhala yang disembah sebagai proyeksi dari salah satu kekuatan yang terpisah dari dalam di dirinya, yakni kerasukan Niki pada naskah ini hingga melacurkan harga dirinya.

ADE SUHANDA
ANGGOTA BUMI SANDIWARA

Rabu, 06 Juni 2012


Eleagi Musim Panas
Membaca dalam rangka mencoba untuk memahami lakon elegi musim panas karya candra kuda pawana seperti cermin dalam kesendirian yang menggantung dalam kesendirian, pada saat tubuh kita disetubuhi rumput liar sementara orang- orang sibuk diluar dengan berjuta aktivitasnya seakan mengasingkan , aku begitu tergoda,  sedikit keberanian yang boleh jadi sangat diipaksakan, memaksa kita untuk berdiri dihadapan cermin, kejujuranpun datang dan berkata kita sedang “sakit” terasa pahit bagi kita untuk memandangnya. Maka, seandainya refleksi diri ini berhasil mengatasi kebisuan “dunia batin” dengan segenap perlambangan visual dan non visual serta estitika yang tersimpan dalam setiap lakon, sesunguhnya  lakon adalah cerminan sosial bagi lingkunganya. 
Kelopak metafora dari untaian kata-kata satstra, nyatalah bahwa intens dan teolog sebuah lakon semestinya menukik tajam kearah penyingkapan hingga lapis-lapis paling dalam akan makna kebenaran dimana didalamnya manusia menjadi pelaku yang sebenarnya dengan segenap keagungan deritanya, diatas kebun obyektif yang dibumbui subyektivitas.
Elegy musim panas karya candra kuda pawana, membawa kita pada memori romansa yang halus dan penuh keuinikan namun diringi emosi beralaskan sandiwara, manusia pada zaman sekarang ini telah sejak lama mengalami revolusi  oleh kesadaran palsu yang meyelimuti seluruh esensi dari realitas sosial melalui proses ide secara besar-besaran dan menjadikan manusia tak ubahnya seonggok materi tanpa jiwa, tanpa perasaan, pemberhalaan total terhadap materi itu terbukti pada prilaku niki yang menjadi salah satu aktor antagonis, yang bisa mengetepikan pada perubahaan  budaya yang mengakibatkan manusia masuk kedalam kubangan segala macam kemunafikan, keterpecahaan kepribadiaan keserakahan, ambisi yang menghalalkan segala cara, niki tidak mengalami dirinya sebagai pengemban aktif kekuatan-kekuatan miliknya namun melainkan sebagai “benda” yang miskin dan tergantung pada kekuatan diluar dirinya, niki menjadi korban  eksklusif yang mengatasnamakan nafsunya untuk memburu uang dan termakan oleh ambisi-ambisi materi. Dalam naskah ini sudah jelas uang telah menjadi berhala yang disembah sebagai proyeksi dari salah satu kekuatan yang terpisah dari dalam di dirinya, yakni kerasukan niki pada naskah ini hingga melacurkan harga dirinya.


Penulis  ade 

Kamis, 17 Mei 2012

Pertunjukan Elegi Musim Panas




ELEGI MUSIM PANAS “Cinta karena harta adalah dusta”

Sebuah naskah drama  sederhana tentang sesuatu yang sebenarnya tidak sederhana Elegi musim panas karya Candra kudapawana adalah gambaran sebuah tingkah polah manusia, kecenderungan merubah sifat cinta yang tulus menjadi bulus, anggapan bahwa  cinta adalah sesuatu yang mulia menjadi berubah pola menjadi cinta adalah harta, naskah yang menginterpretasi kehidupan manusia modern yang berada di tengah kota yang disibukan dengan dunia mereka yang hedonis, harta menjadi jalan utama dalam menjalani hidup. Tokoh Niki/Nicholaslah yang mengambarkan itu semua, Niki yang bertindak sebagai tokoh laki-laki tunggal dalam naskah ini menggambarkan kebusukan manusia yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan harta hingga dengan strategi menipu yang ia lakukan dengan istrinya, Nita sang wanita yang d bodohi kata cintapun menjadi korban Niki yang membuat strategi jitu dengan hidup bersama Nita yang notabene adalah wanita kaya yang memiliki harta warisan dari ayahnya serta hasil kerjanya di diskotik dan tokoh tamu lah yang membuat naskah ini menjadi klimaks, seorang wanita yang berperan menjadi istri Niki dan membantu perjalanan menipu Niki selama ini, dalam bagian akhir naskah sang tamu memberikan resolusi dari cerita ini, Tamu menuduh Nita menjadi seorang yang jahat karena telah merampas Niki, dan sang tamu meminta ganti rugi akan semua itu dengan meminta semua harta yang Nita miliki, langkah yang amat sangat cerdas dalam proses penipuan yang dilakukan Niki dan Tamu ini,
Niki adalah gambaran jelas dari orang-orang di panggung kenyataan yang menciptakan perjalanan cinta menjadi tambang uang, untuk mencari keuntungan, dimana kata cinta sudah tidak lagi menjadi makna yang suci namun telah menjadi kamuflase untuk tujuan tertentu, hanya dalam dunia nyata biasanya cerita seperti ini dilakoni oleh pemeran wanita, wanita memerlukan banyak sekali biaya untuk memenuhi kebutuhanya, hingga terkadang wanita menjadikan lelaki yang memiliki harta berlebih untuk menjadi kekasihnya  agar kebutuhan terpenuhi namun tidak dielakan juga ada beberapa lak-laki yang memiliki sifat sama seperti itu.
Naskah elegi Musim panas adalah naskah yang akan di pertunjukan oleh Bumi Sandiwara dalam perogram pentas tengah tahunnya di Gedung UDKP Kec. Cicurug Kab. Sukabumi yang akan di gelar pada tanggal 5 Mei 2012 dengan pada pukul 15.30 dan 19.00 dan 6 Mei 2012 pukul 16.00, dengan harga tiket masuk sebesar Rp. 5000, Dalam perjalana tujuh tahun Bumi sandiwara terus bergerak untuk mencipta pertunjukan-pertunjukan Seni peran, Musik atau Tari, kali ini Bumi Sandiwara Fokus pada Seni peran atau teater, meski dalam pelaksanaannya dikemas dengan bentuk yang sederhana karena jauh dari bantuan dana pamerintah, apalagi perusahan-perusahan yang ada di Cicurug, ini semua dilaksanakan dengan modal dari Bumi sandiwara sendiri, ini menjadi pembuktian kami pemuda-pemudi Sukabumi bagian utara tetap bisa berpikir positif dan kreatif terhindar dari kenakalan remaja apalagi gerombolan bermotor yang brutal.
Achmad Dayari (Sutradara Bumi Sandiwara)