Senin, 25 April 2016

BUITENZORG ACTOR SINDYCATE MEMBAWA BOGOR PADA FESTIVAL DRAMA BAHASA SUNDA TEATER SUNDA KIWARI KE 17 TAHUN 2016



BUITENZORG ACTOR SINDYCATE
MEMBAWA BOGOR PADA FESTIVAL DRAMA BAHASA SUNDA
TEATER SUNDA KIWARI KE 17 TAHUN 2016

                Sebuah kelompok teater independen bernama Buitenzorg Actor Syndicate (BAS), membawa nama Bogor dalam ajang tahunan Festival Drama Basa Sunda (FDBS) Ke 17 yang di selenggarakan oleh teater Sunda Kiwari di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, acara yang digelar 18 April s.d 8 Mei 2016 menampilkan 64 kelompok teater se Jawa Barat, dan satu kelompok dari pulau kalimantan yaitu “Laskar Banua”. Di tahun ke-17 nya ini teater Sunda Kiwari memberikan 6 pilihan naskah kepada peserta yaitu “Polbakik” karya Arthur S. Nalan, “Jam Hiji Duapuluh Salapan Menit” Karya Ayi G. Sasmita, “Kalangkang” Karya Nazaruddin Azhar, “Nu Garering” Karya Dhipa Galuh Purba, “Manusa Di Jero Botol” Saduran bebas Rosyid E. Abby dari naskah “Manusia Di Dalam Botol” Karya Yusep Muldiyana, “Dayeuh Simpe” Karya Lugiena De, dan “Mojang Dua Rebuan” Karya Dadan Sutisna. BAS yang untuk pertamakalinya mengikuti FDBS memilih naskah “Jam Hiji Duapuluh Salapan Menit” Karya Ayi Goblay Sasmita. Naskah yang menunjukan bagaimana keadilan di sebuah negeri ini telah berpihak pada kekuasaan orang yang berharta, bukan pada rakyat miskin, naskah inipun menggambarkan tentang manupulasi hukum yang begitu merugikan orang-orang yang tidak bersalah.
                BAS Memang terbilang kelompok teater baru di kota Bogor namun sebenarnya diisi oleh orang -orang lama yang telah berkecimpung di dunia perteateran, kelompok ini dibangun demi mengisi kehampaan kelompok teater independen di kota hujan ini, BAS ingin menjadi pembaru bentuk-bentuk kreasi teater di Kota Bogor dan Indonesia umumnya.
Semenjak  25 Januari 2016 BAS memulai proses latihannya untuk FDBS. Kampus Universitas Pakuan (Unpak)-lah yang menjadi lahan latihan BAS yang notabene anggota BAS adalah alumni dan mahasiswa FKIP Unpak, proses casting dan reading menjadi langkah awal BAS memulai produksi FDBSnya, terpilihlah aktor-aktor yang akan berperan dalam produksi BAS yang pertama, yaitu : Dini darusa’adah sebagai Napi, Yunia H. Almunawarah sebagai Jurig Awewe, Deden Fahmi Fadilah sebagai jurig lalaki 1, Ade Rusfiyandi sebagai Jurig Lalaki 2, Ridho R. Falah sebagai Kepala Sipir, Julian D. Pratama sebagai Ustad, Bagus H. Satrio sebagai Sipir, Bunga K. Febriani sebagai Jurig Ibu. Di tambah dengan aktor-aktor pembantu. Pada naskah ini BAS disutradarai oleh Aday Dayari (Ahmad Dayari) yang memang sudah memiliki pengalaman dalam FDBS, aday dayari tercatat sudah menyutradari pertunjukan untuk FDBS semenjak 2008.
Sebelum dipertunjukan di G.K Rumenang Siang Bandung, naskah yang berdurasi sekitar 90 menit ini dipertunjukan di G.K Kamuning Gading Bogor, pada 16 dan 17 April 2016, dalam satu hari pertunjukan ditampilkan dalam dua sesi sehingga ada empat sesi pertunjukan dalam dua hari tersebut , hampir setiap sesi pertunjukan dipadati oleh penonton tercatat sekitar seribu penonton hadir dalam 4 sesi pertunjukan BAS di Kamuning Gading. Ini merupakan prestasi Bagi BAS dalam menghadirkan penonton sebanyak itu di Kamuning Gading, sebagai kelompok yang baru tentu saja akan terasa sulit meyakinkan penonton untuk datang menyaksikan pertunjukan perdanannya.
Tepatnya pada hari Selasa 19 April 2016 BAS dijadwalkan pertunjukan di G.K Rumentang Siang Bandung, jadwal tersebut sesuai dengan hasil pengundian yang dilakukan saat teknikal meeting, BAS memperoleh No undian 6 dari 64 peserta yang akan tampil, walau menadaptkan undian nomor urut awal, hal ini tidak menyurutkan semangat BAS untuk pentas dalam ajang festival teater terbesar di Jawa Barat ini, itu juga terbukti saat BAS melangsungkan pertunjukannya, seluruh aktor bermain begitu luwes dan menarik untuk ditonton, walau dalam bagian akhir pertunjukan terjadi kesalahan teknis matinya aliran listrik gedung. Namun semua dapat diatasi dengan ketenangan yang ditampilkan oleh aktor-aktornya, hingga akhir pertunjukan gemuruh tepuk tangan terdengar riuh di dalam G.K Rumentang Siang Bandung.
“Kami tidak berorientasi sebagai juara dalam festival ini, menjadi peserta dan pertunjukan di Rumentang Siang saja sudah sesuatu yang membanggakan” pungkas Aday Dayari sebagai sutradara dalam pertunjukan ini.