Minggu, 27 Oktober 2013

Membaca Situs Megalitikum Tenjolaya Girang Sukabumi (Batu Kujang)

 Situs Megalit Tenjolaya Girang (Batu Kujang)
            Situs Megalit Tenjolaya Girang atau masyarakat umum lebih akrab menyebutnya situs batu Jolang atau batu Kujang, terletak tepat di kaki gunung Salak tepatnya di kampung Tenjolaya Girang Desa Cisaat Kec. Cicurug Kab. Sukabumi Jawa Barat, secara astronomis terletak di 6  45 dan 106  44’ 39” BT. Area situs dibatasi aliran Sungai Cisaat disebelah timur sebelah utara berupa lahan pertanian dan Gunung Salak di sebelah selatan merupakan pertemuan sungai Cisaat dan sungai Cileueur, disebelah barat areal pesawahan, untuk mencapai situs ini kendaraan roda empat hanya mampu mencapai kampung terdekat yaitu kampung Tenjolaya, selanjutnya perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua namun jika menggunakan kendaraan roda dua akan terasa berat karena rute yang ditempuh adalah jalanan berbatu dan licin serta jalan setapak, udara diarea situs terasa sejuk dan cenderung dingin dikarenakan posisi situs ini adalah sekitar 800 M diatas permukaan laut, areas situs diperkirakan memiliki luas 4000M²
            Kondisi situs ini sudah ditata sebagai situs purbakala yang dilindungi dan dikelola oleh Propinsi Jawa Barat, dinas kebudayaan dan pariwisata balai pengelolaan kepurbakalaan sejarah .dan nilai tradisional, Pada situs batu kujang ini terdapat beberapa batu menhir dan dolmen, yang tersusun pada tiga punden beruundak, jika dilihat dari posisi situs, bisa disimpulkan pintu gerbang situs berada di selatan ditandai oleh dua buah batu besar menyerupai pintu gerbang dengan beberpa batu batu besar yang saling menumpuk, ditahap pertama terdapat beberpa tumpukan batu dolmen kecil dan manhir manhir kecil yang membentuk seperti kumpulan kujang (Batu Kujang 2) dan terdapat juga sebuah kolam kecil, di tahap kedua terdapat dua tumpukan batu dolmen  yang lebih besar dari tahap pertama, di tahap ketiga terdapat sebuah batu dolmen yang pipih berbentuk seperti kujang dengan ukuran tinggi sekitar 200 Cm dan lebar 50 Cm. di dekatnya terdapat beberpa dolmen dan mahir kecil serta terdapat pula batu Jolang yang berbentuk seperti mangkok raksasa untuk menampung air, sekitar 4 meter dari batu yang berbentuk seperti kujang, bertumpuk pula beberapa dolmen-dolmen kecil yang di tengahnya terdapat beberpa batu manhir, jika dilihat batu-batu tersebut seperti membentuk sebuah kuburan. Didekat pintu masuk terdapat pua beberpa manhir, dan diluar gerbang ada sebuah dolmen dan menhir yang berbentuk seperti kuburan.
            Situs ini dikelola oleh tiga orang yang saling terikat ikatan keluarga yaitu abah omo sebagai kuncen pertama dari situs tersebut, yang sekarang digantikan oleh anaknya yaitu pak Wawan dan dibantu oleh istrinya, menurut pak Wawan penelitian lebih rinci mengenai Situs ini belum pernah dilakukan oleh badan arkeologi hanya survey-survey saja yang pernah dilakukan jadi pemaparan mengenai usia batu belum bisa di paparkan secara gamblang, hanya menurut survey usia batu diperkirakan 2000 tahun sebelum masehi, lebih tua dari batu tulis yang berada di Bogor, masih minimnya catatan mengenai batu ini juga mengakibatkan minimnya kunjungan dari masyarakat umum, pelajar, mahasiswa atau bahkan peneliti dalam satu bulan rata-rata pengunjung yang datang hanya sekitar 50 orang itu juga didominasi oleh orang-orang yang berniat untuk ziarah karena mereka mengeramatkan wilayah situs ini, menurut para peziarah situs ini adalah peninggalan raja pajajaran yaitu prabu siliwangi. Bagi mereka yang mengeramatkan wilayah situs ini mereka berpendapat bahwa raja pajajaran pernah berdiam ditempat ini atau sering disebut patilasan,
            Dilansir dari Kalangsunda.net kisah mengenai situs ini adalah, dahulu kala di kaki gunung Salak tersebutlah sebuah padepokan yang dihuni oleh puluhan resi, selain tempat tinggal, padepokan ini juga menjadi tempat para pembesar di kerajaan Paran Siliwangi (Cikal bakal kerajaan Tarauma Negara dan Padjajaran) meminta masukan dan nasehat tentang urusan Negara. Suatu ketika para resi kedatangan tamu pemimpin para Sang Hyang yaitu Sang Hyang Nagandini, Sang Hyang Nagandini membawa tiga bayi mungil, Nagandini bermaksud menitipkan ketiga anaknya itu untuk dididik oleh para Resi yang bijaksana.
            Para Resi menerima permintaan dari Sanghyang Nagandini kemudian memberikan nama kepada ketiga anak tersebut yaitu Taji Malela, Surya Kencana, dan Balung Tunggal, kelak ketiga anak itu akan menurunkan raja-raja yang berkuasa di Padjajaran sementara Sang Hyang Nagandini meninggalkan monumen pahatan kujang bagi ketiga anaknya, para resi pun membuat batu Jolang untuk memandikan anak-anak tersebut
            Hingga saat ini tidak banyak bukti historis yang bisa disajikan baik pemerintah dinas pariwisata Sukabumi atau para arkeolog.


Pembacaan Situs Tenjolaya Girang
            Menurut Jacob Sumardjo Tritangtu atau azas kesatuan tiga merupakan azas dasar masyrakat sunda lama, azas demikian itu bukan hanya terdapat di masyrakat sunda tetapi juga di Minangkabau, Melayu, Sawu, Batak, Itulah pandangan dunia masyarakat peladang. Azas tritangtu ini mendasari semua cara berpikir masyarakat dalam memamknai duniannya, cara berpikir, aktivitas dan karya-karya budayannya disusun dalam hubungan tritangtu yang dapat menjelaskan makna kausalitas keberadaan.
            Seperti dalam situs Tenjolaya Girang yang dibangun oleh masyrakat sunda lampau yang sudah menjadi masyrakat peladang dimasanya, hal tersebut bisa dilihat dari letak geografis situs, yang berada dilembah diantara bukit-bukit, bukit-bukit ini dijadkan sebagai tempat menanam kebutuhan sehari-hari seperti sayur-sayuran dan buah-buahan,  
            Situs Ini pun diapait oleh dua suangai yang mengutkan situs ini sebagai kabuyutan yaitu sungai Cileueur dan Sungai Cisaat, dari wilayah masuk situs ini terdapat dipertemuan sungai tersebut ditandai oleh dua batu basar yang menyerupai gerbang kemudaian masuk kedalam area situs yang sudah membentuk tiga tahapan/umpkan di tahapan pertama terletak beberapa batu mahir, dan batu dolmen yang di sebut warga sebagai batu kujang dua, di ingkat kedua didominasi oleh batu manhir, dengan yang memiliki dolmen kecil ditengahnya, di tingkat ketiga terletak batu dolmen yang besar yaitu batu kujang satu, dan beberpa menhir kecil serta batu dolmen yang ditidurkan, dan juga ada batu jolang yang bebentuk seperti mangkuk.

Peta Situs Megalit Tenjolaya Girang
            Tiga Umpakan atau tahapan dalam situs ini sudah menggambarkan tahap satu (paling bawah) adalah rama, tahap kedua (ditengah) adalah ratu dan tahap ketiga (paling atas) adalah resi, di tandai dengan batu-batu yang ada ditahapan-tahapan tersebut

Situs Tenjolaya Girang Komplek Batu Kujang
2. Ratu
1. Resi
3. Rama
 












Situs Tenjolaya Girang Keseluruhan
1.      Batu Kujang    (Bawah / Bumi)
2.      Batu Korsi (Tengah / Bumi )
3.      Batu Garuda Mupuk (Atas / Langit)

Batu yang terletak di tahap 1 komplek Situs Tenjolaya Girang (Batu Kujang)
            Gerbang
Batu Laki-laki
Batu Laki-laki
Batu Perempuan
 





















Batu Kujang Dua
Tampak Depan                                                Tampak Samping






           

Batu Laki-Laki
Batu Laki-Laki
Batu Perempuan
 








            Di Batu Kujang dua ada posisi Perempuan yang dilaki-lakikan


            Ditahap paling atas di komplek situs ini, terdapat batu kujang satu atau batu Manhir yang berbentuk kujang, dengan beberapa manhir yang diposisikan tertidur, menyerupai tempat duduk diantara batu kujang ini, jika dilihat dengan seksama posisinya, dari batu-batu ini menyimbolkan tempat pemujaan pada masa lampau, dengan batu kujang sebaga objek pemujaannya, batu-batu mahhir yang ditiudrkan sebagai tempat duduknya dan Batu Jolang yang berbentuk seperti mangkuk sebagai penyimpanan air suci, atau tempat untuk membasuh diri sebelum melaksanakan pemujaan seperti berwudhu dalam agama islam.
             
Batu Kujang satu sebagai batu perempuan yang dilaki-lakikan posisinya
                                                           




 


                                                          
Batu manhir yang berada di samping Batu Kujang merupakan batu laki-laki yang diperempuankan posisinya
                                                          







                                                                                          

Tiga buah batu Manhir yang berada di samping batu kujang  memiliki ukuran yang lebih besar batu laki-laki ini diposisikan menjadi batu perempuan.
Batu Jolang yang berbentuk seperti mangkuk yang berisi air di tengahnya merupakan batu simbol perempuan letaknya ada di depan batu kujang.
 



















            Komplek batu kujang tahap 1 sebagai resi atau sebagai dunia atas (Langit), memiliki komposisi batu yang lebih beragam, sebagai tempat paling tinggi dalam komlpek ini, batu-batu ini di khususkan untuk pemujaan , dilihat dari bentuk batunya dan pemosisianya yang menjadi paradok adalah banyaknya pemosisian batu perempuan yang dijadikan batu laki-laki sebagai bentuk kontaradiksi atau penyatuan, namun akan menciptkana nilai yang berbeda dari paradoks tersebut, menurut Jacob Sumardjo konsep teritangtu pada dasarnya adalah perkawinan pasangan oposisu segala hal, pasangan oposisi dasar adalah adalah pembagian laki-laki dan perempuan perkawinan keduanya menghasilakan lahirnya eksistenti ketiga yaitu anak, anak ini merupakan dunia abivalen, mengandung unsur laki-laki dan perempuan  ini lah dunia tengah yang berfungsi medium dari dua oposisi, konsep tri tangtu ini terbentuk di Situs Batu Kujang ini, dengan banyaknya proses pengawinan batu perempuan menjadi batu laki-laki, ini adalah pembentukan dunia tengah atau dunia keseimbangan, keseimbangan antara dunia atas dan dunia bawah dunia tengah yaitu dunia manusia.   
            Komposisi batu di komplek batu kujang ini memang digunakan orang-orang masa lampau untuk melakukan pemujaan, dan jika kita menuju ke utara ke gunung salak kita akan menemukan beberapa tumpukan batu yang merupakan runtutan dari komplek situs megalit tenjolaya girang, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguak rahasia di komlplek situs ini, karena masih banyak batu-batu terkubur yang bersatu dengan tanaman-tanaman warga yang masih bisa dibaca keberadaannya.








Daftar Pustaka :

Sumardjo, Jacob. 2011, Sunda Pola Rasionalitas Budaya, Bandung: Kelir
www.disparbud.jabarprov.go.id




Tentang Seni Teater "UYEG" Sukabumi

PENGERTIAN TEATER
            Teater berasal dari kata Yunani “Theatron” yang artinya tempat atau gedung pertunjukan, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukan di depam orang banyak, namun teater selalu dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari kata Yunani kuno “Draomai” dari penjelasan diatas dapat disimpilkan bahwa istilah “Teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan sedangkan “Drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan, jadi teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan diatas panggung dan disaksikan oleh penonton jika drama adalah lakon dan teater adalah pertunjukan maka drama merupakan bagian atau salah satu unsur dari teater.
            Menurut Eko Santoso di Indonesia pada tahun 1920an belum muncul istilah teater yang ada hanya Tonil atau Sandiwara, Toneel berasal dari bahasa belanda “Het Tonnel”  istilah sandiwara konon ditemukan oleh Sri Paduka Mangkunegara VII dari Surakarta, kata Sandiwara berasal dari bahasa Jawa “Sandi” berarti Rahasia dan “Wara” atau “Warah” yang berarti Pengajaran menurut Ki Hajar Dewantara “Sandiwara” berarti Pengajaran yang dirahasiakan atau dilakukan dengan cara perlambangan Sampai pada masa Jepang dan awal kemerdekaan istilah sandiwara masih sangat popular istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah zaman kemerdekaan, sebelum teater-teater modern muncul, di Indonesia berkembang Teater-teater tradisi yang berkembang di masyarakat itu sendiri, tidak di dalam gedung pertunjukan atau istana, banyak seni teater tradisi yang dipertunjukan di halaman rumah atau di lapangan desa, seni teater ini terkontaminasi oleh dramaturgi barat yang menciptakan teater menjadi ekslusif di dalam gedung pertunjukan, seni teater pada masa dulu masih merakyat bersatu dengan rakyat, hingga cerita yang dipertunjukannyapun tidak jauh dari sisi kehidupan masyarakatnya, teater tradisi menajadi hiburan untuk menghilangkan penat para penontonnya pada masa itu, pertunjukan teater rakyat baiasanya bercirikan komedi dan karikatural, sehingga teater tradisi menjadi obat mujarab untuk menghilangkan penat para penontonnya. 





TEATER TRADISIONAL
            Sejarah teater Indonesia dimulai sejak sebelum zaman hindu, pada zaman itu, ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara-upacara ritual, teater taradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Pada saat itu yang disebut teater sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater belum merupakan bentuk kesatuan teater yang utuh, setelah melepaskan diri dari kaitan upacara, unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat.
            Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbeda-beda, tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tatacara dimana teater tersebut lahir. Di Jawa Barat memiliki banyak sekali ragam seni teater daerah, setiap bentuk kesenian ini memiliki bentuk dan tipe pertunjukan yang berbeda-beda, beberapa jenis teater rakyat yang ada di Jawa Barat menurut Jacob Sumardjo adalah Ubrug dari daerah Banten, topeng Banjet dari daerah Karawang, Bekasi, Cisalak (Bogor), Longser dari daerah Parahyangan (Subang, Bandung, dan sekitarnya) Sintren dari daerah Cirebon, Manoreh (Manorek) dari wilayah Ciamis, Ronggeng Gunung berkembang di daerah pantai wilayah Ciamis Selatan, Topeng Blantek terdapat di wilayah Jawa Barat bagian selatan dan Uyeg dari Sukabumi.













TEATER “UYEG” SUKABUMI
            Dilansir dari Duniaart.com kesenian Uyeg yang sudah hilang hampir 470 tahun kembali dipertunjukan di Gedung Pusat Kajian Islam (Islamic Center) lantai 2 jalan Veteran No. 3 Sukabumi pada tahun 2010 dalam acara sosialisasi hasil revitalisasi seni tradisional Uyeg dengan menampilkan cerita lawas yang berjudul Sadar Ditatar Siluman dengan sutradara Cece Suhanda dan para pelaku dari padepokan Rawayan pimpinan Wilang Sundakalangan.
            Uyeg Merupakan salah satu seni tradisi yang ada di daerah Sukabumi khususnya di daerah selatan yaitu di pesisir pantai pelabuhan ratu, kesenian teater rakyat ini sudah bisa di katakana puanah karena kesenian ini sudah lama sekali tidak dipertunjukan di Sukabumi ataupun daerah lainnya apalagi sepeninggalnya pak Anis Djati Sunda yang berhasil merevtalisasi seni teater rakyat ini hampir tidak ada lagi kelompik kesenian di Sukabumi  yang berinisiatif untuk mempertunjukan seni teater rakyat ini, menurut Wilang Sundakalangan kesenian teater rakyat ini sudah ada sejak masa kerajaan Sunda (Abad Ke 7 sampai 14) ketika itu digelar sebagai bagian dari ritual seren taun (Pesta panen) untuk menghormati Dewi Sri dan Guru Bumi namun terakhir kesenian ini ditampilkan pada tahun 1990 setelah Anis melakukan pengumpulan data pada orang-orang yang mau melestarikan Uyeg dari tahun  1978-1981, dari informasi yang diperoleh pada tahun 1854 sempat dipentaskan oleh ayah Akung dari generasi pertama yang mencoba mengangkat kesenian Uyeg, lalu oleh abah Ita sebagai generasi keempat sekitar tahun 1957-1960 yang mulai mengangkatnya kembali, sejak oleh ayah Akung sekitar tahun 1884 kesenian ini sudah berada di Sukabumi tapi mulai dicanangkan sebagai kesenian khas Sukabumi baru tahun 1981 oleh Anis Djatisunda
            Berdasarkan Hipotesis Anis Djati Sunda seni Teater Rakyat Uyeg merupakan satu bentuk teater rakyat Jawa Barat yang masih memiliki ciri-ciri dari pola struktur budaya nusantara yang mewarnai lambang tradisi megalitik, terbukti dengan masih digunakannya warna hitam dan putih pada kain yang disebut kelir, kain hitam putih ini merupakan simbol alam yaitu gambaran krisna-paksa (Hitam) dan Sukhla-Paksa (Putih) yakni terkait dengan alam yang memiliki dua unsur yang berbeda, bumi langit, atas bawah, laki-laki perempuan dan yang lainnya dan kata Uyeg memiliki filosofi bahwa Uyeg bersinonin dengan kata Oyag artina bergerak pada visualisasi pertunjuknnya kain kelir senantiasa digerak-gerakan saat pertunjukan sebagai simbol bahwa hidup itu terus bergerak, dinamis tidak setatis seperti pemikiran manusia.
            Anis Djatisunda sebagai tokoh yang berhasil merevitalisasi Uyeg Anis mencoba menyandingkan kesakralan seni teater rakyat ini dengan kemajuan teater modren, Anis memasukan dramaturgi barat dalam konsep pertunjuknnya, seperti tangga dramatik, dan tata artistis serta tata cahaya, namun semua itu memiliki batasan agar tidak merusak konsep sakral dari Uyeg itu sendiri. Seperti dalam naskah Uyeg yang Anis tulis inti cerita dari naskah ini adalahsadarnya dua orang jagoan yang juga penjahat setelah diberi nasihat oleh siluman dalam proses penampilannya banyak diselangi adegan humor.
            Bentuk pertunuukan Uyeg pada dasarnya mirip dengan pertunjukan seni teater rakyat Jawa Barat lainnya seperti longser, pada awal pertunjukan sekelompok nayaga mengawali pertunjukan dengan tetabuhan bedug dengan bunyi lambat yang semakin lama menjadi semakin cepat, bunyi-bunyi tersebut disusul dengan bunyi kendang dan alat gamelan lainnya serta bunyi teropet yang semakin memeriahkan suasana, seiring suara gamelan yang cepat sehelai kain yang berwarna hitam dan putih sebagai backdrop digetarkan, ketika aluanan musik melambat, munculah Raja Uyeg dari balik kelir dengan dandanan seperti raja dalam cerita pewayangan tapi memakai kaca mata hitam dan merokok kemudian raja Uyeg menjadi simbol alam Uyeg dan sang Rajapun memaparkan cerita Uyeg yang akan ditampilkan.
            Seni Teater Uyeg sama dengan teater rakyat yang lainnya perlu penelitian dan pelestarian lebih lanjut demi menambah khazanah kesenian teater di Indonesia, seni teater tradisi bisa menjadi sumber ide gagasan untuk penciptaan seni teater modern yang selama ini kian berkembang, seni teater tradisi memiliki ciri dan jatidiri yang mesti dikaji sehingga bisa dibaca juga pola pikir orang-orang pada masa itu, baik pola pikir berkesianannya atau pola pikir kehidupannya.   





Daftar Pustaka
Santoso, Eko. DKK, 2008, Seni Teater Jilid 1 untuk SMK, Jakarta: Departemen Pendidikan          Nasional
Sumardjo. Jacob. 1992, Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia,         Jakarta: PT Citra Aditya Bakti
Duniaart.com 

Nalan, S, Arthur. 2006, Teater Egaliter, Bandung: Sunan Ambu Press STSI Bandung

Sabtu, 12 Oktober 2013

Simbol Pertunjukan Wayang Sukuraga

Simbol Pertunjukan Wayang Sukuraga
oleh : Achmad Dayari

Wayang adalah salah satu seni pertunjukan teater tradisonal di Indonesia yang sangat tua dan tidak dapat ditelusuri bagaimana asal mulanya dalam menyelusuri sejak kapan ada pertunjukan wayang di Jawa, bisa ditemukan di dalam berbagai prasasti pada jaman raja Jawa antara lain pada masa Raja Balitung, pada masa pemerintahan raja Balitung telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang seperti yang terdapat pada prasasti balitung dengan tahun 907 Masehi. Prasasti tersebut mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang
Petunjuk semacam itu juga ditemukan dalam sebuah kakawihan arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, pada masa raja Airlangga dalam abad ke 11. Maka dari itu pertunjukan wayang dianggap kesenian tradisi yang sangat tua, sedangkan pada masa itu pertunjukan wayang belum jelas tergambar model pementasannya
Menurut Eko Santoso. Dkk. dalam buku Seni Teater jilid 1 awal mula adanya wayang yaitu saat Prabu Jaya Baya ingin mengabadikan wajah para leluhurnya dalam bentuk gambar yang kemudian dinamakan Wayang Purwa. Prabu Jaya baya berharap bisa mengenang para leluhurnya yang merupakan para dewa atau manusia jaman purba, pada mulainya gambar-gambar itu dilukis dalam Rontal (daun tal) orang sering menyebutnya daun Lontar. Kemudian berkembang menjadi wayang kulit seperti yang kita ketahui sekarang
Pada masa kini kita tidak hanya mengenal wayang kulit, namun kita juga mengenal wayang golek, wayang orang, wayang catur, bahkan dalam perkembangnnya wayang masa kini menjadi beragam hasil pembaharuan oleh para senimanya, seperti di kota Bogor ada wayang Bambu dan wayang Hihid, di Bandung tepatnya di Jurusan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia ada wayang Cyber, dan ada pula wayang Suket yang dipopulerkan oleh Slamet Gundono, serta wayang Sukuraga yang berkembang di daerah Sukabumi, pada dasarnya beberapa bentuk wayang masih menganut pada bentuk wayang kulit yaitu memainkan wayang oleh seorang dalang, dalang tersebutlah yang menjadi membawa cerita disetiap pertunjukannya yang membedakan dari wayang-wayang yang dimodifikasi oleh senimannya pada masa sekarang didominasi oleh bentuk wayangnya dan cerita yang dilakonkan. 
Banyak sekali jenis-jenis wayang kontemporer pada masa kini yang berangkat dari disiplin ilmu seni rupa, kita sebut saja Wayang Cyber dan Wayang Sukuraga namun wayang Cyber lebih fokus terhadap bentuk siluet wayang atau dimensi wayang dalam bayangannya yang diciptakan dari sinar OHP yang di pantulkan pada wayangnya sehingga memberikan kesan berbeda dengan wayang-wayang yang lainnya sementara wayang Sukuraga memiliki bentuk yang mirip dengan wayang kulit yang biasanya, namun cerita dan bentuk wayang tersebut sangatlah berbeda, bentuk wayang Sukuraga tercipta dari bentuk-bentuk tubuh manusia yang diproyeksikan menjadi wayang (Boneka)

Wayang Sukuraga

            Wayang sukuraga diciptakan oleh seorang seniman yang bernama Fendi Sukuraga yang berdiam di Jl. Sriwidari no 111 Kota Sukabumi, wayang ini sudah dikembangkan semenjak tahun 1995, bermula dari pameran lukisannya di Institut Teknologi Mara Malaysia (Sekarang UITM) lukisannya yang bertema Sukuraga “Peran-peran” diartikan pelakon oleh apresiastor disana, semenjak saat itu Fendi berpikiran bahwa sukuraga manusia adalah wayang, maka dalam proses kreatifnya Fendi mengalihkan lukisan sukuraganya yang biasa tergambar dalam kanvas ke media kulit dan dibentuk menjadi wayang, wayang-wayang ini bergamabarkan anggota tubuh manusia (Sukuraga) seperti kaki, tangan, mata, hidung dan lain-lain,
            Dalam pertunjukan wayang Sukuraga diiringi oleh musik tradisi dan modern seperti alat karawitan : kendang, saron, suling, karinding  dan alat modern seperti : gitar, keyboard, drum, biola. Pertunjukan wayang sukuraga sering dikolaborasikan dengan tarian dan video art, pertunjukan wayang Sukuraga biasanya ditampilkan untuk mengisi acara-acara kedinasan di Kota Sukabumi, atau acara-acara komunitas, namun Sukuraga juga sering mempertunjukan karyanya dalam kegiatan-kegiatan wayang seperti dalam kegiatan Gunungan Internasional Wayang & Pupet Festival 2013 di kota Baru Parahyangan Bandung pada tahun 2013
            Lakon wayang Sukuraga biasa dibentuk improvisasi oleh dalangnya yang selalu diperankan oleh Fendi sendiri, lakon-lakonnya berkisar tentang kisah kehidupannya nyata yang terjadi pada masa kini, menyinggung pada masalah sosial, seperti korupsi, gaya hidup masyarakat dan kesenjangan-kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat sebagai apresiatornya. Durasi pertunjukan wayang sukuraga biasanya berkisar dari satu sampai dua jam, dengan didominasi musik yang kuat dalam pertunjukannya, dalang menjadi sutradara sekaligus pelakon tunggal dalam pertunjukan wayang sukurga seperti dalam pertunjukan wayang kulit atau wayang golek biasanya

Tokoh Wayang Sukuraga sebagai Simbol

            Tokoh-tokoh dalam wayang Sukuraga adalah bagian bagian dari tubuh manusia atau Fendi menyebutnya tubuh Sukuraga seperti hidung, mata, telinga dan kaki di tambah dengan gunungan seperti dalam pertunjukan biasanya, gunungan ini menjadi penafsiran sang Sukuraga atau Manusia, tubuh menurut  Fendi adalah bagian yang mampu berucap dan mengejawantahkan segala tindak-tanduknya, setiap bagian dalam tubuh adalah cerminan manusia kelak, seperti dalam ajaran agama Islam, suatu hari nanti tangan, mulut, mata, dan kaki akan mempertanggung jawabkan segala tingkahnya, kemana kaki melangkah, apa yang dilakukan tangan, apa yang diucapkan mulut, apa yang dilihat mata, suatu saat nanti akan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa setelah manusia meninggal dunia dan rohnya menghadap yang Kuasa.
            Simbol-simbol yang diaplikasikan dari alat-alat indra manusia di wayang Sukuraga adalah penggambaran tingkah polah manusia, hingga cerita yang dipertunjukanpun adalah percakapan yang terjadi antara pihak-pihak ini, kaki yang becengkrama dengan tangan, kaki dengan mata, dan yang lainnya, tokoh-tokoh ini membicarakan tentang tingkah lakunya sendiri, higga membentuk sebuah cerita, mengenai tubuh itu sendiri,
            Bentuk tubuh yang dibentuk dalam Wayang sukuraga tidaklah nyata seperti bentuk utuh atau realis, namun Fendi membentuknya non realis, seperti tokoh hidung atau mata, Fendi menggambarkannya menjadi bentuk yang memiliki kaki dan tangan namun berkepala hidung atau mata ini ditafsirkan oleh Fendi bahwa Sukuraga (Tubuh) mampu menjadi diri sendiri, memiliki kemampuan untuk memimipin dirinya sendiri,
            Sukuraga (Tubuh) yang pada hakikatnya dipimpin oleh pikiran digambarkan lain oleh Fendi, seperti dalam cerita-cerita yng di pentaskannya, tokoh-tokoh dalam naskahnya selalu bisa menjadi diri sendiri, menceritakan apa yang dilakukannya, ini adalah interpretasi Fendi, manusia sering bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu, manuasia banyak yang menjadi seperti binatang, bertindak hanya didasari hawa nafsunya, sehingga banyak tindakan kaki, tangan, mulut, hidung dan mata diluar kendali pikirannya, mereka seperti menjadi makhluk yang dipimpin oleh dirinya sendiri, hingga tanpa pikirannya itu anggota sukuraga sering sekali bertikai saling menyalahkan atau saling menuduh, merasa menjadi paling benar, namun adakalnya dalam kisah-kisah yang dipertunjukan Wayang Sukuraga, anggota Sukuraga ini memberikan pengajaran kepada apresiatornya atau Fendi lebih sering menyebutnya berdakwah, tokoh-tokoh dalam wayang ini sering sekali memberikan kesadaran bahwa apa yang dilakukan manusia banyak sekali yang salah, ketika kaki melangkah di wilayah yang salah, mulut berbicara  kasar atau menyakiti hati orang lain, tangan digunakan dengan salah seperti korupsi, mencuri, memegang hal-hal yang tidak baik, hal ini dilakukan Fendi sebagai bentuk berdakwah dalam kesenian, sehingga apresiatornya menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sendiri terlebih dahulu, karena jika seorang manusia mampu memperbaiki dirinya sendiri maka dengan mudah ia akan mampu memperbaiki orang lain, diri sendiri menjadi sentral perbaikian, bukan orang lain, sibuk memperbaiki orang lain tanpa sadar diri sendiri saja masih memiliki banyak kekurangan, kesadaran-keadaran ini sering sekali digambarkan melalui dialog-dialog para tokohnya,
            Keresahan-keresahan Fendi yang digambarkan pada tokoh dalam wayang Sukuruga juga tampak dalam warna-warna wayang tersebut, Fendi memberikan warna yang berani pada tokoh-tokohnya seperti kuning, merah dan biru, hampir setiap tokoh memiliki beberapa warna yang melekat di tubuhnya, ini juga menegaskan bahwa Fendi ingin menggambarkan bahwa tokoh-tokoh ini adalah tokoh yang mampu berpendapat, yang biasanya dalam diri manusia yang sesungguhnya anggota sukuraga (tubuh) ini selalu terdiam kecuali mulut yang mampu mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran manusia,  kaki, tangan, telinga, mata adalah anggota bisu yang hanya biasa bergerak atau berlaku sesuai dengan keinginan pikiranya. Warna-warna ini juga memberikan kesan kebingungan tokoh dalam bentuk, atau pembuatnya ingin memberikan kesan bahwa wayang Sukuraga (Boneka) adalah tokoh fiksi yang haya berupa wayang dengan cerita-cerita yang diangkat dari kehidupan manusia.  



DAFTAR PUSTAKA

Santoso, Eko. DKK, 2008, Seni Teater Jilid 1 untuk SMK, Jakarta:                                Departemen Pendidikan Nasional