Sabtu, 03 Mei 2014

KABARET MENJADI PEREDUKSI IDENTITAS SENI TEATER DAERAH

BAB I
LATAR BELAKANG

Seni pertunjukan menjadi sesuatu yang selalu menarik untuk diteliti karena kedinamisannya. Seni pertunjukan di dunia ataupun di Indonesiia selalu memiliki keberagaman bentuk yang terus berubah dari waktu kewaktu, keberagaman bentuk ini dapat dipengaruhi dari pelakunya, sosialnya ataupun lingkungannya, secara sosial kemajuan teknologi telah memberi dampak yang signifikan pada pergeseran bentuk-bentuk seni pertunjukan dari masa kemasa, kecanggihan teknologi diabad ke duapuluh tidak hanya mengubah pola hidup manusia semakn praktis begitu juga mengubah beragam bentuk seni pertunjukan semakin praktis pula, Menurut Luckas bahwa hidup dibawah modernisme kapitalistik adalah sebuah distorsi, bahkan kesenian pun adalah buah proses yang terdistorsi. Seni dimasa lalu, bagi sekolahh Frankfurt adalah bagian integral dari kebudayaan masyarakat tetapi datangnya ilmu-ilmu pengetahuan alam menyebabkan masyarakat terindustrialisasi dari dirinya sendiri dan menjadi budak ilmu dan teknik (Mudji, 71 : 2005)
Teater menjadi salah satu bentuk seni pertunjukan yang pergeseran bentuk bentuknya dipengaruhi oleh kemajuan zaman serta pola pikir masyarakatnya, beberapa bentuk teater menjadi pragmatis sesuai dengan kebutuhan penontonnya yang hidup di era yang dituntut untuk serba cepat, bermunculanya bentuk drama musical dan kabaret khususnya di Indonesia banyak menggeser bentuk teater yang lebih realisme tanpa lagu-lagu atau tarian, pada kenyataannya apresiator teater lebih menggandrungi bentuk bentuk teater musical yang didominasi oleh tarian musik yang mengalun dari awal hingga akhir pertunjukan serta kostum dan artisrik yang gemerlapan. Dikalangan pelajar bentuk kabaret menjadi salah satu alternatif seni peran yang mudah untuk ditampilkan dan memiliki daya pikat yang kuat pada penontonya. Ini semua mejadi sebuah dilema dalam perkembangan seni teater disatu pihak perkembangan seni teater lebih menarik dan populer namun dilain pihak seni teater kehilangan jatidirinya sebagai seni yang sakral dan memerlukan proses yang panjang untuk mencapai estetiknya sehingga menciptakan sebuah katarsis bagi para pelaku teaternya walau terkadang bentuk-bentuk teater tersebut tidak diterima dengan baik oleh apresiatornya, hanya menjadi bahan peluapan emosi senimannya
BAB II
ISI

KABARET SEBAGAI IDENTITAS BARAT
Beberapa tahun ini produksi drama musikal di Indonesia semkin meningkat, sebut saja drama musikal “Laskar Pelangi” yang diangkat dari novel, kemudian film dan di ubah menjadi drama musikal, kemudian “Lutung Kasarung” garapan Didi Petet yang dipertunjukan di Bandung dan Jakarta, terbaru ada pertunjukan drama musikal “Siti Nurbaya” yang dibandrol dengan harga tiket sampai Rp. 1.500.000.- untuk VVIP, merupakan harga yang fantastis untuk sebuah pertunjukan teater muskal yang di gelar di Indonesia yang notabene negeri ini masih carut marut marut dengan urusan ekonomi, serasa kontradiktif jka mendengar harga tiket sebuah pertunjukan yang mungkin bergaris lurus dengan gaji buruh satu bulan namun bukan hal tersebutlah yang akan menjadi fokus penulis, penulis hanya memberikan gambaran besar tentang mulai gandrungnya masyrakat umum terhadap dunia seni pertunjukan di Indonesia khusnya pertunjukan musical. Di kota Bandung memang juga terjadi gejala yang sama di kota kembang ini beberpa kelompok teater fokus dengan garapan drama musikalnya, seperti AAP, Potret, dan yang lainya, dikalangan pelajar drama musikal mengkrucut menjadi sebuah pertunjukan yang diberinama “Kabaret” pertunjukan ini mungkin hadir lebih dulu dibanding menyerbakna pertunjukan Drama musikal baik di kota Jakarta atau Kota Bandung. Pertujnjukan Kabaret di kota Bandung tidak hanya digemari oleh kelompok teater pelajar saja namun kelompok mahasiswa dan independent sekalipun menyenangi jenis pertunjukan ini.
Istilah kabaret berasal dari sebuah kata berbahasa Prancis untuk ruangan bar atau cafe yang merupakan tempat lahirnya hiburan ini, kata ini awalnya berasal dari bahasa Belanda tengah “Cabret”, bahasa Prancis utara kuno “Camberrete dan dari bahasa latin “camera” yang pada intinya meiliki makna “Ruangan kecil”, kabaret juga merujuk ke rumah bordil gaya Mediterania, bar dengan meja-meja dan wanita-wanita yang berbaur serta menghibur para pengunjung bar tersebut sering juga ditambah dengan hiburan seperti tari-tarian tergantung tempatnya masing-masing, sifatnya dapat liar dan kasar 





Kabaret Prancis (Wikipedia)


Bentuk pertunjukan kabaret di Indonesia berkembang pesat di daerah Jawa Barat khusunya di wilayah Bandung, bentuk kabaret di Bandung memiliki ciri secara umum dari audio mixing musik terjadinya pengabungan antara sound fx, potongan iklan, potongan dialog film, potongan pertunjukan seni seperti wayang, ilustrasi musik dan yang paling menonjol adalah dari bentuk dialog yang direkam atau lipyinc semua itu digabungkan dalam sebuah rekaman, dalam tata pentasnya kabaret menggunakan artistik panggung layak pertunjukan teater konvesional namun dibuat lebih sederhana sampai terkesan seadanya. Kelompok kabaret di Bandung di dominasi oleh pelajar usia SMA atau SMP namun tidak menutup kemungkinan mahasiswa dan masyarakat umumpun banyak yang bergeliat dalam kabaret ini. 
Kabaret menjadi sebuah industri budaya pragmatis yang mengucilkan estetika teater yang sesungguhnya yang dibangun sejak lama, kabaret merupakan proses pasif para penikmatnya, mereka mencoba menghindar dari komleksitas sebuah pertunjukan seni teater yang merupakan tingkat kecerdasan para penggiatnya, bentuk pragmatis ini mencoba menghindar dari tata artistik yang baik dan tata pentas yang baik yang selalu terbangun dari pertunjukan teater, kabaret amat sangat menurunkan setandarisasi pertunjukan seni teater sesungguhnya, sehingga menimbulkan bentuk dangkal dalam sebuah seni pertunjukan, ini semua demi mengejar kepragmatisan sebuah seni teater, mengejar konsumsi publik, dan popularitas hingga menciptakan kapitalisme produk kesenian. Inilah yang dipandang oleh Adorno dan Horkheimer sebagai muslihat besar sebagai dosa masa lalu atas kuasa rasio teknologi, individu justru kehilangan basis otonomi dan kendali atas dirinya dengan “pencerahan” justru masyarakat diposisikan seolah-olah sebagai subjek, padahal mereka adalah objek dalam perspektif ini, budaya tidak lagi lahir dari masyarakat sebagaimana yang dipahami dalam konsep ”mass culture,” namun diproduksi dan direproduksi oleh kaum kapitalis atau penguasa dan pemilik modal (borjuasi) untuk meraup keuntungan. Ilusi-ilusi yang mengiring semangat (sprit) “pencerahan” sebagai ekspresi kebebasan atau emansipatoris justru jangan dilihat secara kasat mata. Didalamnya penuh tendensi kepentingan, yaitu ekonomi politik (baca: kekuasaan kelas borjuasi). 

Pertunjukan kabaret yang meluas di Kota Bandung khususnya, berhasil mengikat para penikmatnya yaitu kaum muda dalam lingkaran star syndrom, menciptakan mereka terus berpikir untuk menjadi yang terbaik diatas pentas yang terbaik dalam batasan baik penampilan melalui kostum dan make up yang membuat mereka menjadi cantik atau ganteng hal ini akan mendangkalkan pemikiran mereka dan jelas akan menimbulkan sebuah pemikiran bahwa teater adalah produk budaya praktis bukan produk budaya proses, padahal pada dasarnya proses ini lah yang di cetuskan oleh Aristotels yaitu seni adalah Katarsis, proses pencarian bentuk untuk menjadikan teater sebuah pertunjukan dari bentuk latihan, penggagasan hingga penciptaan artistik, penciptaan adegan, dan kecerdasan sutradara proses inilah yang akan menimbulkan katarsis dalam proses berkesenian.
Adorno dan Horkhaimer, secara tegas mengatakan industri budaya tetap dipandang sebagi industri hiburan yang dikendalikan langsung oleh  industri media turut menawarkan imaji-imaji palsu. Masyarakat mencari kepuasan melalui konsumsi semu, kebahagiaan ilutif serta keindahan palsu yang  ditopang industri  kebudayaan (cultural industry) memanipulasi masyarakat yang tak sekadar berbasis konsumsi tapi juga menjadikan semua artefak budaya sebagai produk industri. 
Dalam sejarahnya kabaret pertama dibuka pada 1881 di Montmartre, Paris Rodolphe SalĂ­s "cabaret artistique." Tak lama kemudian setelah tempat itu dibuka, namanya diganti menjadi Le Chat Noir (Kucing Hitam). Kabaret ini menjadi tempat para seniman kabaret pendatang baru dapat mencoba pertunjukan-pertunjukan mereka di depan teman-teman mereka sebelum dibawakan di depan penonton. Tempat ini mengalami sukses besar, dikunjungi oleh orang-orang penting pada masa itu, seperti Alphonse Allais, Jean Richepin, Aristide Bruant, dan orang-orang dari berbagai bidang kehidupan kaum perempuan dari kelas atas, para wisatawan, bankir, dokter, wartawan, dll. Chat Noir adalah tempat dimana mereka dapat melupakan pekerjaan mereka. Pada 1887, kabaret ditutup karena situasi ekonomi yang buruk yang membuat pertunjukan-pertunjukan seperti ini menjadi vulgar.

KABARET MENJADI PEREDUKSI IDENTITAS SENI TEATER DAERAH

Identitas berasal dari bahasa Inggris Identity yang memiliki pengertian harfiah, ciri, tanda, atau jadi diri yang melekat pada seseorang, kelompok atau sesuatu sehingga membedakan dengan yang lain, identitas juga merupakan keseluruhan atau totalitas yang menunjukan ciri-ciri  atau keadaan khusus seseorang atau jati diri dari factor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari tingkah laku individu, identitas budaya adalah cerminan kesamaan sejarah dan kode-kode budaya yang membentuk sekelompok orang menjadi satu walaupun dari luar mereka tampak berbeda, membicarakan identitas berarti membicarakan sebuah jati diri yang ada pada diri seseorang, dalam perdebatan antara kabaret dan teater daerah tentu akan muncul perdebatan lain mengenai apa yang menjadi identitas dari kabaret ? apa bersinergi dengan kebudayaan Indonesia atau dengan seni teater daerah yang berasal dari Indonesia ?
Sebagai Negara yang terdiri dari ribuan pulau Negara Indonesia memiliki bebagai macam suku sebagai masyrakatnya, suku-suku ini memiliki kebudayaan yang beragam tentunnya bentuk bentuk seni pertunjukannya pun beragam.
  Seni teater Indonesia muncul dari upacara-upacara adat karena pada masa itu seni teater di Indonesia digunkan untuk media menyampaikan rasa syukur, rasa takut dan keinginan untuk terhindar dari berbagai bencana sehingga kesenian bisa menjadi pengemban kekuatan magis yang bisa menyelamatkan kehidupan manusia dan lingkungannya dari gangguan kekuatan supranatural, untuk menghindari semua itu maka masyarakat Indonesia membuatlah berbagai sarana diantaranya upacara upacara.
Upacara ini beragam berbeda disetiap wilayahnya dan berbeda pula bentuknya sesuai kebutuhan menurut Yoyo C. Durachman dalam bukunya Teater Tradisional dan Teater Baru, apakah upacara tersebut untuk pemujaan keagamaan, upacara menanam dan menuai padi, upacara kelahiran, kematian atau perkawinan yang merupakan siklus hidup manusia, upacara menolak bala, upacara membuka hutan atau membuka daerah pemukiman baru, upacara dalam mencari atau bersatu dengan kekuatan gaib. Dengan klasifikasi jenis-jenis upacara ini maka akan muncul juga beragam seni teater yang berbeda bentuknya di wilayah nusantara, seperti :
Makyong dan Mendu dari Riau 
Randai dan Bakaba dari Sumatera Barat
Topeng Arja dan Calon Arang dari Bali
Mamanda dan Papayungan dari Kalimantan
Sanreli dan Pakarena dari Sulawesi
Longser, Wayang Golek, Ubrug, Debus, Sintren dari Jawa Barat
Srundul, Wayang Kulit, Wyang Orang dari Jawa Tengah
Ludruk, Ketoprak dan Topeng Malangan dari Jawa Timur   
Teater tradisional rakyat lahir dalam bentuknya yang amat sederhana, dan penuh unsur sepontanitas, teater tradisional memiliki beberapa ciri khas seperti :
Tanpa menggunakan naskah atau sepontanitas, dengan mengangkat cerita dari kehidupan mereka sehari hari mimpi mimipi mereka, dan cerita sejarah atau dongeng nenek moyang
Bentuk pertunjukannya merupakan penggabungan dari seni tari, musik dan drama, 
Pertunjukan tidak terikat waktu biasanya berlangsung semalam suntuk
Dipertunjukan di luar gedung seperti halaman rumah atau lapangan 
Tidak ada jarak antara penonton dan pemain
Iringan musik tradisional dan penggunaan bahasa daerah

Di Jawa Barat pun berkembang seni teater tadisional diantaranya Uyeg dari Sukabumi, Longser dari Kab. Bandung, Ubrug dan Topeng Banjet dari Bogor. Longser adalah salah satu jenis teater daerah Jawa Barat yang sampai hari ini masih berkembang dan peristiwanya masih terjadi dibeberapa wilayah di Jawa Barat. Kata longser adealah perpaduan dari 2 buah kata yaitu Long dan Ser, Long yang berarti melong atau melihat dengan seksama dan Ser yang berari Ngageleser atau merasakan kenikmatan tertentu hingga pengertian longser dapat disimpulkan barang siapa yang melihat atau menyaksikan longser pasti hatinya akan tergugah, namun menurut Yoto C. Durachman kemungkinan lain longser berasa dari kata Lengger yang artinya centil atau genit ini lebih ditujukan kepada ronggengnya.
Dalam pertunjukanya longser pun terkadang mnggunakan konsep nyanyi-nyanyian, aktor-aktor longser untuk memikat penonton biasanya mereka menggunakan bodoran yang berasal dari pelesetan lagu-lagu yang dinyanyikan secara jenaka, selayaknya drama musikal pada masa kini, berbeda dalam kabaret yang hanya menggunakan media sound tanpa dinyanyikan langsung oleh aktor-aktornya, selain nynayian kabaret pula memaksa aktor nya untuk berdialog tanpa mengelurakan suara, aktor-aktor kabaret hanya membentuk mulut mereka sesuai dengan suara yang muncul dalam sound atau Lipsinc 

Teknik kabaret memotong-motong lagu yang sudah ada atau diolag dalam film dan iklan yang dijadikan bagian dalam rekamanya, menciptkan kabaret seperti seni yang kehilangan etikanya, pada dasarnya saling menghormati hasil karya orang lain tanpa menjiplaknya adalah sebuah bentuk penghormatan pada karya seni orang lain atau kita sebut saja etika berkesenian, etika ini berbanding lurus dengan estetika yang muncul dari seni tersebut, estetika atau nilai keindahan inilah yang menjadi nilai jual pada bentuk kesenian tersebut, 

KABARET MENJADI INDUSTRI SENI PERTUNJUKAN

Menurut R.M Soedarsono konsep sebuah pertunjukan seni untuk pariwisata adalah : Imitasi, Singkat, Variatif, Meninggalkan unsur magis, Murah, hal-hal tersebutlah yang menjadikan sebuah bentuk seni pertunjukan yang diminati masyarakat banyak atau wisatawan, dalam pertnjukan kabaret juga tergambarkan itu semua, sehingga kabaret mampu mengisi ruang mata penonton yang ingin menyaksikan seni praktis namum menarik perhatian, pertunjukan seringkali dipertunjukan di hotel atau thame park (taman bermain) seperti Trans Studio Bandung (TSB), pada tanggal 1 Mei 2014 kabaret Bandung bekerja sama dengan mengadakan festival Kabaret yang diberi nama “Perang Bintang” selanjutnya pada tanggal 10 Juli 2014 akan ada pemecahan rekor bermain kabaret selama lebih dari 6 jam tanpa henti, ini semua membuktikan bahwa ada kerja sama yang baik antara Trans Studio Bandung dengan kelompok kabaret di kota Bandung, hai ini menggambarkan kepercayaan TSB bahwa kabaret mampu mendatangkan nilai ekonomi terhadap TSB itu sendiri berarti kabaret sudah menjadi industri seni pertunjukan, yang jauh meninggalkan perkembangan pertunjukan teater konvensional yang masih kebingungan mencari biaya produksi pertunjukannya.
Kabaret membuktikan eksistensnya dengan mengadakan beberapa festival kabaret tingkat pelajar, hal tersebut dilakukan untuk menciptakan jejaring antara pecinta kabaret dari mulai tingkat pelajar SMP sampai dengan independent atau diluar institusi pendidikan, hal tersebut berhasil menciptkan demam kabaret di kota Bandung, sehingga setiap pertunjukan kabaret selalu saja dipadati oleh penontonya, tentu saja ini akan menjadi pemasukan dari wilayah tiket pertunjukan pun membeludak, sehingga penyelenggara pun tidak dirugikan namun mendapat keuntungan dari setiap penyelenggaraanya.




BAB III
KESIMPULAN

KONVERSI KABARET KE DRAMA MUSIKAL
Menjadi bahan perenungan yang penting untuk mengkonversi kabaret pada drama musical karena dalam kabaret masih daja terjadi bentuk plagiatisasi dari musiknya atau lipsinc yang mengikis estetika pada pertunjukan teater, kabaret masik digolongkan pada jenis pertunjukan teater atau seni peran karena dalam pertunjukannya masih terdapat alur cerita, konflik, dan kejadian latar tenpat dan waktu yang dilukiskan secara gamblang oleh para pelakonya. 
Drama musikal merupakan warisan bentuk teater yang sudah ada semenjak berabad lalu, sebuah pencarian bentuk pertunjukan teater yang mengandalkan kemampuan bernyanyi dan menari dari para aktornya tidak lain untuk memikat penonton sebagai apresiator utamanya, drama musical lebih teliti dalam proses penggarapannya baik dalam musik yang ditampilkan secara live bukan rekaman, atau aktor yang bernyanyi dengan menggunakan vocalnya sendiri, aktor tidak haya menampikan kualitas berdialognya untuk menyampaikan pesan namun juga menampilkan oleh vocalnya berupa nyanyian, ditambah dengan kualitas gerak yang menjadi tari-tarian, pastilah dalam pencarian bentuk-bentuk teater musical memerlukan pencarian panjang untuk mencapai kualitas drama musikal yang baik
Dalam sisi industri drama musikal mampu bersaing, karena bentuk pertunjukannya yang menarik perhatian banyak penonton karena tidak melulu menjenuhkan dengan dialog-dialog panjang serta gesture yang statis, drama musikal sangat dinamis ditambah dengan konsep garap yag menarik pasti akn menjadi satu kemasn produk industri kreatif yang siap untuk di jual.



DAFTAR PUSTAKA

Duracman. C. Yoyo, 2009, Teater Tradisional dan Teater Baru, Bandung, Sunan Ambu STSI Press
http://indra-anwar.blogspot.com/2012/03/definsi-teater-dan-sejarah-teater.html

http://kotakpandorahitam.blogspot.com/2011/10/indusrti-budaya-ditengah-pencerahan.html

http://sendyakalaning.blogspot.com/2011/02/pemikiran-kritis-max-horkheimer.html

http://www.bandung.eu/2012/01/implikasi-seni-kabaret-dalam-pendidikan.html#ixzz2j6ne6VMr

http://seni-drama.blogspot.com/2012/12/definisi teater_18.html#ixzz2dtYmtFyjKutha Ratna. 

Nyoman. 2010. Sastra dan Culture Studies Representasi Fiksi dan Fakta. Pustaka Pelajar; Yogyakarta

Santosa, Eko. Dkk. 2008. Seni Teater Jilid I Untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Departemen Pendidikan Nasional; Jakarta.

Soedarsono, R.M, 2003. Seni Pertunjukan dari Prespektif Politik, Sosial dan Ekonomi,Gajah Mada press;Yogyakarta

Soedarsono, R.M, 1999. Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata, Gajah Mada press;Yogyakarta


Sutrisno, Mudji. Dkk. 2005. Teks-teks kunci estetika filsafat seni.  Galangpress; Yogyakarta. 

Syuropati. A. Muhammad. 2012. 7 Teori Sastra Kontemporer & 17 Tokohnya. In AzNa Books; Yogyakarta

Wastap.B.Jaeni. 2011. Diktat Kuliah Teori-Teori Kritis. Dipa STSI Bandung; Bandung

Jumat, 04 April 2014

upacara adat rebo wekasan

http://www.youtube.com/watch?v=m1uMPV0jU6U&feature=youtu.be

cermin FTR Di PIKIRAN RAKYAT

http://www.pikiran-rakyat.com/node/275844

Dedaunan Terakhir Membaca Panggung Kenyataan



Dedaunan Terakhir Membaca Panggung Kenyataan
(Catatan Persiapan Pertunjukan Dedaunan Terakhir oleh Teater Cermin di Festival Teater Remaja 4)

                Berita ditelevisi hari ini sama seperti hari-hari kemarin yaitu berita bencana alam dinegeri yang kaya akan sumber daya alamnya ini, Sinabung, Kelud, banjir Jakarta, banjir Pantura, longsor dll, kerusakan alam dinegeri ini yang diakibatkan oleh manusia menjadi tontonan yang biasa di televisi atau dilingkungan sendiri, padahal ini merupakan ancaman luarbiasa untuk planet paling biru di bima sakti ini. Manusia sebagai maklukhidup paling sempurna di Bumi adalah factor penting bagi terawat atau rusaknya pelanet ini, namun pada nyatanya demi keserakahan, harta, dan kejayaan di dunia, manusia menjadi makluk paling menakutkan di dunia, manusia acapkali sibuk mengurusi kebutuhannya tanpa memikirkan kebutuhan alam itu sendiri.
            Sedikit pemaparan dalam paragrap pertama sejalan dengan pemikiran saya dalam menggarap naskah teater yang berjudul “Dedaunan terakhir”, naskah ini mengajak penonton yang keseluruhannya adalah manusia untuk menyadari bahwa dirinya mungkin adalah bagian dari manusia-manusia yang merusak alam, merakalah yang mengakibatkan pemanasan global meraja rela namun dalam “Dedaunan Terakhir” saya menciptakan tokoh-tokoh Ririwa yang bukan manusia, mereka adalah sejenis siluman atau karuhun penghuni hutan yang saya gambarkan mereka sebagai prajurit-prajurit penjaga hutan Nyalindung, dan saya juga menuliskan tokoh-tokoh manusia yang siap merusak hutan, membangunya menjadi gedung bertingkat atau apartemen,
            Istilah hutan larangan dalam mitos orang orang primordial adalah mitos yang begitu dahsyat sebagi benteng untuk untuk menjaga kelestarian hutan atau alam atau mungkin ini semua bukan mitos namun ini merupakan strategi berpikir manusia pada masa dulu untuk menjaga hutannya dari kerusakan karena mereka mampu membaca masa depan, mereka tahu akan terjadi kerusakan yang maha dahsyat terhadap hutan atau alam, Dedaunan terakhir pula ingin mengajak manusia untuk mengingat itu semua, dalam adegan-adegannya perjuangan Ririwa ditampilkan begitu semangat untuk menjaga hutannya, karena mereka tidak pernah ingin pergi dari hutannya, mereka ingin berada disana selamanya, tapi pada kenyataannya manusia malah ingin merusaknya demi kepuasan dirinya sendiri.
            Naskah ini akan dipertunjukan oleh teater cermin di Festival Teater Pelajar (FTR) yang ke 4 di Gedung Kesenian Sunan Ambu Bandung pada tanggal 30 Maret 2013, ini merupakan pertunjukan kedua dari “Dedaunan Terakhir” setelah sebelumnya pernah dipertunjukan di dalam acara Festival Seni Teater dan Kabaret Teater Epigonen di Gedung Juang Sukabumi pada tahun 2011 namun kali ini dipertunjukan dengan konsep berbeda. Sudah hampir 2 bulan naskah ini diproses oleh teater cermin hingga sampai pada pertunjukannya nanti, ini adalah kali ke tiga cermin mengikuti helaran FTR dengan kekuatan amunisinya yang baru, aktor-aktor dari kelas X dan XI, dalam penggarapannya cermin berusaha dengan baik dengan durasi latihan 3 hari dalam satu minggu, cermin terus berusaha menampilkan yang terbaik untuk karya-karyanya, sehingga almamaternya SMAN 1 Cicurug bisa bangga pada teater cermin, pada kesempatan kali ini cermin tetap menjadi wakil satu-satunya dari kota dan kab. Sukabumi setelah di tahun 2010 dan 2012 cermin mengikuti FTR sendiri tanpa saudara dari teater sekolah di Kota Kab Sukabumi. Semoga 2014 kembali menjadi tahun yang menyenangkan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Achmad Dayari
Penulis naskah/Sutradara
23 Februari 2014


KEKAYAAN GERAK DALAM DITORSI BUNYI



KEKAYAAN GERAK DALAM DITORSI BUNYI

          

  Sesaat ketika memasuki gedung Juang 45 Kota Sukabumi yang belum selesai direnovasi terdapat baliho besar yang menarik untuk dibaca dari kelompok Fantasi star yang akan pertunjukan pada malam ini baliho yang membuat saya tertarik berjudul FANTASI STAR STORY “Dua tahun perjalanan fantasi star kami mencoba konsisten mengahadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur tapi juga mendidik kami sadar selama perjalanan ini tidak selamanya berjalan sesuai dengan rencana tapi kami akan terus berusaha sekuat tenaga untuk berkarya demi kemajuan industri kreatif di kota Sukabumi kami akan terus berkarya selama jantung ini berdetak selama nafas ini berhembus, kami akan terus berkarya selama detak ini mengalir dan kami adalah fantasi star creative, memang sedikit terdengar hiperbola apa yang tertulis dibaliho gedung Juang ini, namun ini mungkin keinginan besar yang dijadikan tujuan para creator komunitas fantasi star, kita tidak akan membahas permasalahan wacana tersebut tapi yang akan saya bahas haya sedikit pemaparan tentang pertunjukan yang di gelar oleh Fantasi Star.
            Sabtu malam 22 Februari 2014 gedung Juang Sukabumi kembali meriah setelah lama bisu dari hingar-bingar seni pertunjukan, malam itu kelompok kabaret yang menamakan diri Fantasi Star merayakan ulang tahunnya yang kedua, mereka mempertunjukan 3 komposisi pertunjukan, yang pertama tari modern dengan judul Dance Art Black Swam, kedua Kabaret Newsies, dan ketiga musical Monster Rock,  pertunjukan dibuka oleh seorang MC yang berkelamin laki-laki dan berpakaian seperti wanita, tokoh ini cukup digandrungi oleh para penonton yang notabene adalah sisa-siswi SMA di kota Sukabumi, dengan keadaan panggung yang belum selesai seperti kain di wings dan backdrop anggung yang masih kosong sedikit menggangu konsentrasi saat menyaksikan pertunjukan pembukaan oleh fantasi star yaitu komposisi tari modern yang temanya diambil dari film Black Swam, komposisi yang berlangsung sekitar tigapuluh menit ini dibumbui dengan tata kostum yang menarik para penari yang didominasi oleh anak perempuan usia SMA memperlihatkan kecintaannya terhadap jenis tari modern ini dengan baik, sehingga rampak gerak yang mereka lakukan terlihat begitu baik, pagelaran tari yang di pertunjukan diatas panggung dengan dekorasi besi besi panggung yang diberi lampu warna-warni ini merupakan hasil karya Wendi Widiarsyah. Wendi apik menyusun adegan tari dari satu bagian kebagian lainya sehingga para penonton terlihat senang melihat pertunjukan tersebut.
            Pertunjukan kedua adalah kabaret yang diberi judul Newsies disutradarai oleh Muhamad Alvin dan Llili Aminulloh, dalam catatn Fantasi Star naskah ini berkali-klai mendapatkan penghargaan diantaranya : Cerita terbaik di FESSKAL, Koreografi terbaik, Mixing terbaik, Aktor Terbaik, Kostum Terbaik di festival yang diselenggarakan oleh Mahasiswa UPI. Sukabumi pada dasarnya memang sebuah kota yang anak mudanya menggandrungi pertunjukan kabaret khususnya mereka yang berada di bangku SMA, mereka sudah lama terhegemoni oleh dunia Kabaret dengan bukti banyaknya komunitas teater SMA di kota Sukabumi yang memilih kiblatnya yaitu Kabaret, ada dua Festival besar yang melombakan jenis pertunjukan kabaret di kota Sukabumi yaitu FESSKAL dan FSTK, banyaknya guru mata pelajaran seni yang memberikan tugas praktek kepada siswanya yaitu pertunjukan Kabaret.
            Istilah kabaret berasal dari sebuah kata berbahasa Prancis untuk ruangan bar atau cafe yang merupakan tempat lahirnya hiburan ini, kata ini awalnya berasal dari bahasa Belanda tengah “Cabret”, bahasa Prancis utara kuno “Camberrete dan dari bahasa latin “camera” yang pada intinya meiliki makna “Ruangan kecil”, kabaret juga merujuk ke rumah bordil gaya Mediterania, bar dengan meja-meja dan wanita-wanita yang berbaur serta menghibur para pengunjung bar tersebut sering juga ditambah dengan hiburan seperti tari-tarian tergantung tempatnya masing-masing, sifatnya dapat liar dan kasar
            Catatan diatas merupakan sedikit wacana mengenai sejarah dari nama kabaret sebelum berubah fungsi dan makna seperti sekarang, di Jawa Bara Kabaret berkembang di Kota Bandung dan mungkin lahirnya kabaret sebagai bentuknya sekarang ini terlahir dikota ini pula, dcetuskan oleh kelompok kelompok mahasiswa bandung pada masa itu seperti padihyangan dan yang lainnya, dan berkembanglah jenis kabaret ini seperti sekarang. Kelompok-kelpompok kabaret di kota Sukabmi dan Bandung Sama berkembang pesatnya sehingga beberpa Festival Kabart di Bandung seringkali di juarai olh kelompok kabaret dari Sukabumi, sebuah pencapaian yang luar biasa dari sebuah kota yang kini terlihat tabu dari seni tradisinya malah berkembang di bentuk seni postmodernnya yaitu Kabaret.
            Pada pertunjukanm malam ini, Fantasi Star dan berkabaretnya sedikit merubah paradigma kabaret yag biasa dihadirkan siswa siswi SMA Di kota Sukabumi, seperti adegan berpelukan yang berlebiha atau adegan percintaan yang acapkali mengundang hasrat bagi para penontonnya atau malah aktornya sendiri, Fantasi berusaha memetamorfosis diri sehingga tampilan kabaret yang mengisahkan seorang penjual Koran di kota Newyork ini sedikit mengalami anti klimaks di beberapa adegan di tengah pertunjukan mengakibatkan penonton banyak terdiam tanpa berteriak histeris seperti biasanya penonton kabaret di kota Sukabumi, namun setidaknya ini semua menurangi dampak pragmatisasi dari kabaret itu sendiri, Kabaret menjadi sebuah industri budaya pragmatis yang mengucilkan estetika teater yang sesungguhnya yang dibangun sejak lama, kabaret merupakan proses pasif para penikmatnya, mereka mencoba menghindar dari komleksitas sebuah pertunjukan seni teater yang merupakan tingkat kecerdasan para penggiatnya, bentuk pragmatis ini mencoba menghindar dari tata artistik yang baik dan tata pentas yang baik yang selalu terbangun dari pertunjukan teater, kabaret amat sangat menurunkan setandarisasi pertunjukan seni teater sesungguhnya, sehingga menimbulkan bentuk dangkal dalam sebuah seni pertunjukan, ini semua demi mengejar kepragmatisan sebuah seni teater, mengejar konsumsi publik, dan popularitas hingga menciptakan kapitalisme produk kesenian, Inilah yang dipandang oleh Adorno dan Horkheimer sebagai muslihat besar. Sebagai dosa masa lalu atas kuasa rasio teknologi, individu justru kehilangan basis otonomi dan kendali atas dirinya. Dengan “pencerahan” justru masyarakat diposisikan seolah-oleh sebagai subjek, padahal mereka adalah objek dalam perspektif ini, budaya tidak lagi lahir dari masyarakat sebagaimana yang dipahami dalam konsep ”mass culture,” namun diproduksi dan direproduksi oleh kaum kapitalis atau penguasa dan pemilik modal (borjuasi) untuk meraup keuntungan. Ilusi-ilusi yang mengiring semangat (sprit) “pencerahan” sebagai ekspresi kebebasan atau emansipatoris justru jangan dilihat secara kasat mata. Didalamnya penuh tendensi kepentingan, yaitu ekonomi politik (baca: kekuasaan kelas borjuasi). 
            Dibalik pandangan tersebut jasa besar kelompok ini untuk mengembangkan seni pertunjukan telah terukir di kota yang dulunya dihuni oleh bentuk bentuk teater adiluhung seperti Uyeg yang dikembangkan oleh Anis Djati Sunda, dan juga tempat para kelompok teater yang mendiami kota ini sebelumnya seperti Sri Asih, Rawayan, Teater Juang, Bengkel Seni Sukabumi dan lainya,
            Perkembangan seni pertunjukan memang dinamis, namun bagaimana kita menyingkapinya dengan baik, sehingga bentuk dinamis ini tetap katarsis tidak menjadi pragmatis.

ACHMAD DAYARI
Mahasiswa Pascasarjana
Jurusan Pengkajian Seni Pertunjukan
Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung

Minggu, 12 Januari 2014

Naskah Monolog Sederhana EPISODE TERAKHIR SANG PEMIMPI

EPISODE TERAKHIR SANG MIMPI
Oleh Achmad Dayari

                (Seorang wanita bernyayi sambil memeluk boneka plastik) nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk… (nada nya lebih tinggi) nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk… (nada semakin tinggi) nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk
                Itulah nyayian paling merdu yang pernah aku dengar, dulu ketika aku kecil, setiap aku akan tertidur emak selalu saja menyanyikan lagu itu walau emak bukan keturunan sinden namun suaranya amat sangat merdu, sambil bernyayi emak selalu berkata, “Mimpilah yang indah neng dan wujudkan esok pagi”, kata itu selalu terngiang ditelingaku, hingga kini selalu aku ingat kata-kata itu hingga setiap hari aku bermimpi dan mimpi itu selalu saja indah, ini semua berkat emak, kata-kata emak seraya menjadi doa untuk ku, hingga setiap hari aku terus-terusan bermimpi dengan segala keindahannya, dalam mimpi-mimpi itu tak pernah ada keburukan, hingga sering sekali aku tak pernah mau terbangun dari mimpiku sangking indahnya mimpi itu
                Tapi itulah kesalahan emak paling besar, kesalahan yang sudah mengutukku sepanjang hidup, aku tak bisa pergi dari kutukan ini, emaklah penyebab semuanya, emaklah yang pantas disalahkan, kata-katanya memang manis, tapi maknanya benar-benar pahit, waktu kecil aku selalu dibuai oleh mimpi-mimpi dan mimpi, setiap hari mimpi dan mimpi lagi, sekarang baru aku sadari mimpi-mimpi itulah yang manjadikan aku seperti ini.
                Kini aku sadar dan tahu semua ini adalah kutukan, berbelas tahun lalu aku dibuai seorang ibu tua untuk bermimpi yang tinggi dan wujudkan lah, itu lah kata-katanya yang menjelma hadist ditelingaku, hingga setiap hari aku bermimpi tentang ini dan itu, tentang dunia, tentang masa depan, tentang semuanya keindahan hidup ketika semua keindahan itu tak pernah menyapaku saat aku kanak-kanak, tapi itu tidak pernah membuatku menyerah untuk terus bermimpi. Aku bermimpi dan terus menerus menunggu mimpi itu terwujud, emak bilang besok pagi, tapi saat matahari terbit beribu kali, mimpiku tak pernah ada yang terwujud, semuanya dusta, hanya wacana belaka.
                Akupun berpikir bagaimana cara mewujudkan mimpi itu, apapun caranya akan aku wujudkan mimpiku tentang segala keindahan hidup ini, maka aku lakukan berbagai cara untuk mewujudkan mimpi-mimpiku, yah karena ini mimpiku harus aku wujudkan, dan akhirnya aku gapai mimpi itu aku wujudkan semuanya aku berhasil menggapai kindahan hidup ku dapatkan segala yang aku inginkan, aku memiliki segalanya, mimpiku terwujud
                Tapi ternyata bukan ini yang aku mau, bukan kesenangan yang aku mau, aku ingin kebahagiaan, emak ternyata kau salah tentang mimpi-mimpi ini, kau bohong mimpiku akan terwujud esok pagi, setelah esok pagi, saat aku mencari cara untuk wujudkan mimpi ini ternyata kau bohong mak, kau hanya berbohong, mimpi itu tidak pernah ada mak, kau membohongiku dari semenjak aku kecil, hingga aku sekarang tumbuh besar saat aku melihat semuanya ada dihadapanku ternyata aku tidak bahagia, kau tega mak memberikan aku petuah setiap hari tentang mimpi, nyatanya kini keindahan yang aku miliki mengorbankan segalanya dalam hidupku, mengorbankan semua yang ada pada tubuhku,
                kenapa kau cepat mati mak, sebelum menjelaskan tentang mimpi-mimpi ini mak, dongeng-dongeng mu sebelum tidur dulu adalah bualan besar yang menyiksaku, kau bohong mak, aku menyesal mewujudkan mimpi-mimpi ini, aku lebih memimilih untuk tidak pernah memiliki mimpi mak.
                (Menagis) Kau telah meracuni ku dengan keindahan hidup yang harus aku wujudkan, hingga ku terbuai didalamnya, dan sekarang aku mengerti mak, ternyata mimpi paling buruk adalah ketika aku bermimpi dan tak pernah mau bangun dari mimpi itu…
TERDENGAR SUARA SEORANG LAKI-LAKI
                “Cindy”
                (tergesa-gesa bangun) ia sebentar…

26 Desember 2013 10:16


Kamis, 09 Januari 2014

CERITA ADE SUHANDA

CERITA I
Kemajuan ilmu dan teknologi yang semula bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, tetapi kenyataannya telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Ibarat cerita raja midas yang menginginkan setiap yang disentuhnya menjadi emas, ternyata ketika keinginan dikabulkan dia tidak semakin senang tetapi justru menjadi sebaliknya.

John Naissbitt mengatakan bahwa, era informasi menimbulkan gejala mabuk teknologi, yang ditandai dengan beberapa Indikator, yaitu; 1) Masyarakat lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat; 2) masyarakat takut dan memuja teknologi; 3) masyarakat mengaburkan antara yang nyata dan yang semu; 4) masyarakat menerima kekerasan sebuah hal yang wajar; 5) masyarakat mencintai teknologi dalam bentuk mainan; 6) masyarakat menjalani kehidupan yang berjarak dan terenggut.

Naisbitt ingin mengingatkan bahwa, ketika manusia mulai memuja dan menjadikan teknologi sebuah patron tunggal dalam menjalani kehidupan, maka yang sebenarnya terjadi adalah, Ilmu itu telah kehilangan ruh fundamentalnya, karena Ilmu telah mengeliminir peran manusia dan menjadikan manusia sebagai budaknya.

Dengan demikian, Ilmu memerlukan sebuah instrument agar mampu menempatkan ilmu tetap pada tempatnya, dan instrument itu adalah filsafat. filsafat yang kemudian mengembalikan ruh dan tujuan luhur Ilmu, agar Ilmu tidak menjadi boomerang bagi kehidupan umat manusia. Di samping itu, salah satu tujuan filsafat ilmu adalah mempertegas bahwa Ilmu dan perkembangannya merupakan sebuah instrument, bukan Tujuan. 

Kemajuan Ilmu seiring perjalananya, membuat manusia ingin mendapatkan segala apa yang diinginkan. Sehingga, kemajuan ilmu menjadi sebuah komoditas untuk dapat meraih segala keinginanya secara instant.


CERITA II
Agama dan ilmu dalam beberapa hal menunjukan perbedaanya, namun pada sisi tertentu memiliki kesamaan. Agama lebih mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan (ritual) yang cenderung ekslusif, dan subjektif. Sementara ilmu selalu mencari hal baru dan tidak perlu terikat dengan etika progresif. Agama memberikan ketenangan dari segi batin, karena ada janji kehidupan setelah mati. Sedangkan ilmu memberi ketenangan dan sekaligus kemudahan bagi kehidupan di dunia.

Karena bagi masyarakat beragama, walaupun Ilmu memiliki perbedaan yang konfrehensif, baik dalam fase rohani dan fase kebutuhan jasmani, ilmu adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dari nilai ketuhanan, karena sumber ilmu yang hakiki adalah Tuhan, karena manusia hanya menemukanya melalui pendekatan-pendekatan dan disiplin ilmu secara tersistematis, dengan kemudian merekayasanya, dan menjadikanya sebuah instrument penting dalam kehidupan. Karena manusia berbeda dengan ciptaan Tuhan lainya, manusia diberikan daya pikir berbeda dengan makhluk lainya. Daya pikir inilah yang kemudian menemukan teori-teori ilmiah dan teknologi.

Dalam waktu yang sama, antara manusia, daya pikir dan temuan-temuanya, semua itu harus bertanggung jawab dalam balut transcendental, tanggung jawab pada Penciptanya. Karena, daya pikir tersebut tidak dapat dipisahkan dari keberadaan manusia sebagai ciptaan-Nya. Sehingga, konsekuensi logisnya, manusia