Jumat, 04 April 2014

Dedaunan Terakhir Membaca Panggung Kenyataan



Dedaunan Terakhir Membaca Panggung Kenyataan
(Catatan Persiapan Pertunjukan Dedaunan Terakhir oleh Teater Cermin di Festival Teater Remaja 4)

                Berita ditelevisi hari ini sama seperti hari-hari kemarin yaitu berita bencana alam dinegeri yang kaya akan sumber daya alamnya ini, Sinabung, Kelud, banjir Jakarta, banjir Pantura, longsor dll, kerusakan alam dinegeri ini yang diakibatkan oleh manusia menjadi tontonan yang biasa di televisi atau dilingkungan sendiri, padahal ini merupakan ancaman luarbiasa untuk planet paling biru di bima sakti ini. Manusia sebagai maklukhidup paling sempurna di Bumi adalah factor penting bagi terawat atau rusaknya pelanet ini, namun pada nyatanya demi keserakahan, harta, dan kejayaan di dunia, manusia menjadi makluk paling menakutkan di dunia, manusia acapkali sibuk mengurusi kebutuhannya tanpa memikirkan kebutuhan alam itu sendiri.
            Sedikit pemaparan dalam paragrap pertama sejalan dengan pemikiran saya dalam menggarap naskah teater yang berjudul “Dedaunan terakhir”, naskah ini mengajak penonton yang keseluruhannya adalah manusia untuk menyadari bahwa dirinya mungkin adalah bagian dari manusia-manusia yang merusak alam, merakalah yang mengakibatkan pemanasan global meraja rela namun dalam “Dedaunan Terakhir” saya menciptakan tokoh-tokoh Ririwa yang bukan manusia, mereka adalah sejenis siluman atau karuhun penghuni hutan yang saya gambarkan mereka sebagai prajurit-prajurit penjaga hutan Nyalindung, dan saya juga menuliskan tokoh-tokoh manusia yang siap merusak hutan, membangunya menjadi gedung bertingkat atau apartemen,
            Istilah hutan larangan dalam mitos orang orang primordial adalah mitos yang begitu dahsyat sebagi benteng untuk untuk menjaga kelestarian hutan atau alam atau mungkin ini semua bukan mitos namun ini merupakan strategi berpikir manusia pada masa dulu untuk menjaga hutannya dari kerusakan karena mereka mampu membaca masa depan, mereka tahu akan terjadi kerusakan yang maha dahsyat terhadap hutan atau alam, Dedaunan terakhir pula ingin mengajak manusia untuk mengingat itu semua, dalam adegan-adegannya perjuangan Ririwa ditampilkan begitu semangat untuk menjaga hutannya, karena mereka tidak pernah ingin pergi dari hutannya, mereka ingin berada disana selamanya, tapi pada kenyataannya manusia malah ingin merusaknya demi kepuasan dirinya sendiri.
            Naskah ini akan dipertunjukan oleh teater cermin di Festival Teater Pelajar (FTR) yang ke 4 di Gedung Kesenian Sunan Ambu Bandung pada tanggal 30 Maret 2013, ini merupakan pertunjukan kedua dari “Dedaunan Terakhir” setelah sebelumnya pernah dipertunjukan di dalam acara Festival Seni Teater dan Kabaret Teater Epigonen di Gedung Juang Sukabumi pada tahun 2011 namun kali ini dipertunjukan dengan konsep berbeda. Sudah hampir 2 bulan naskah ini diproses oleh teater cermin hingga sampai pada pertunjukannya nanti, ini adalah kali ke tiga cermin mengikuti helaran FTR dengan kekuatan amunisinya yang baru, aktor-aktor dari kelas X dan XI, dalam penggarapannya cermin berusaha dengan baik dengan durasi latihan 3 hari dalam satu minggu, cermin terus berusaha menampilkan yang terbaik untuk karya-karyanya, sehingga almamaternya SMAN 1 Cicurug bisa bangga pada teater cermin, pada kesempatan kali ini cermin tetap menjadi wakil satu-satunya dari kota dan kab. Sukabumi setelah di tahun 2010 dan 2012 cermin mengikuti FTR sendiri tanpa saudara dari teater sekolah di Kota Kab Sukabumi. Semoga 2014 kembali menjadi tahun yang menyenangkan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Achmad Dayari
Penulis naskah/Sutradara
23 Februari 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahka masukan komentar anda!