http://www.youtube.com/watch?v=m1uMPV0jU6U&feature=youtu.be
Jumat, 04 April 2014
Dedaunan Terakhir Membaca Panggung Kenyataan
Dedaunan Terakhir Membaca Panggung Kenyataan
(Catatan Persiapan Pertunjukan Dedaunan
Terakhir oleh Teater Cermin di Festival Teater Remaja 4)
Berita ditelevisi hari ini sama
seperti hari-hari kemarin yaitu berita bencana alam dinegeri yang kaya akan sumber
daya alamnya ini, Sinabung, Kelud, banjir Jakarta, banjir Pantura, longsor dll,
kerusakan alam dinegeri ini yang diakibatkan oleh manusia menjadi tontonan yang
biasa di televisi atau dilingkungan sendiri, padahal ini merupakan ancaman
luarbiasa untuk planet paling biru di bima sakti ini. Manusia sebagai
maklukhidup paling sempurna di Bumi adalah factor penting bagi terawat atau
rusaknya pelanet ini, namun pada nyatanya demi keserakahan, harta, dan kejayaan
di dunia, manusia menjadi makluk paling menakutkan di dunia, manusia acapkali
sibuk mengurusi kebutuhannya tanpa memikirkan kebutuhan alam itu sendiri.
Sedikit
pemaparan dalam paragrap pertama sejalan dengan pemikiran saya dalam menggarap
naskah teater yang berjudul “Dedaunan terakhir”, naskah ini mengajak penonton
yang keseluruhannya adalah manusia untuk menyadari bahwa dirinya mungkin adalah
bagian dari manusia-manusia yang merusak alam, merakalah yang mengakibatkan
pemanasan global meraja rela namun dalam “Dedaunan Terakhir” saya menciptakan
tokoh-tokoh Ririwa yang bukan
manusia, mereka adalah sejenis siluman atau karuhun penghuni hutan yang saya
gambarkan mereka sebagai prajurit-prajurit penjaga hutan Nyalindung, dan saya
juga menuliskan tokoh-tokoh manusia yang siap merusak hutan, membangunya menjadi
gedung bertingkat atau apartemen,
Istilah
hutan larangan dalam mitos orang orang primordial adalah mitos yang begitu
dahsyat sebagi benteng untuk untuk menjaga kelestarian hutan atau alam atau
mungkin ini semua bukan mitos namun ini merupakan strategi berpikir manusia
pada masa dulu untuk menjaga hutannya dari kerusakan karena mereka mampu
membaca masa depan, mereka tahu akan terjadi kerusakan yang maha dahsyat
terhadap hutan atau alam, Dedaunan terakhir pula ingin mengajak manusia untuk
mengingat itu semua, dalam adegan-adegannya perjuangan Ririwa ditampilkan begitu semangat untuk menjaga hutannya, karena
mereka tidak pernah ingin pergi dari hutannya, mereka ingin berada disana
selamanya, tapi pada kenyataannya manusia malah ingin merusaknya demi kepuasan
dirinya sendiri.
Naskah
ini akan dipertunjukan oleh teater cermin di Festival Teater Pelajar (FTR) yang
ke 4 di Gedung Kesenian Sunan Ambu Bandung pada tanggal 30 Maret 2013, ini merupakan
pertunjukan kedua dari “Dedaunan Terakhir” setelah sebelumnya pernah
dipertunjukan di dalam acara Festival Seni Teater dan Kabaret Teater Epigonen
di Gedung Juang Sukabumi pada tahun 2011 namun kali ini dipertunjukan dengan
konsep berbeda. Sudah hampir 2 bulan naskah ini diproses oleh teater cermin
hingga sampai pada pertunjukannya nanti, ini adalah kali ke tiga cermin
mengikuti helaran FTR dengan kekuatan amunisinya yang baru, aktor-aktor dari
kelas X dan XI, dalam penggarapannya cermin berusaha dengan baik dengan durasi
latihan 3 hari dalam satu minggu, cermin terus berusaha menampilkan yang
terbaik untuk karya-karyanya, sehingga almamaternya SMAN 1 Cicurug bisa bangga
pada teater cermin, pada kesempatan kali ini cermin tetap menjadi wakil
satu-satunya dari kota dan kab. Sukabumi setelah di tahun 2010 dan 2012 cermin
mengikuti FTR sendiri tanpa saudara dari teater sekolah di Kota Kab Sukabumi.
Semoga 2014 kembali menjadi tahun yang menyenangkan seperti tahun-tahun
sebelumnya.
Achmad
Dayari
Penulis naskah/Sutradara
23 Februari 2014
KEKAYAAN GERAK DALAM DITORSI BUNYI
KEKAYAAN
GERAK DALAM DITORSI BUNYI
Sesaat ketika memasuki gedung Juang 45 Kota Sukabumi yang belum selesai direnovasi terdapat baliho besar yang menarik untuk dibaca dari kelompok Fantasi star yang akan pertunjukan pada malam ini baliho yang membuat saya tertarik berjudul FANTASI STAR STORY “Dua tahun perjalanan fantasi star kami mencoba konsisten mengahadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur tapi juga mendidik kami sadar selama perjalanan ini tidak selamanya berjalan sesuai dengan rencana tapi kami akan terus berusaha sekuat tenaga untuk berkarya demi kemajuan industri kreatif di kota Sukabumi kami akan terus berkarya selama jantung ini berdetak selama nafas ini berhembus, kami akan terus berkarya selama detak ini mengalir dan kami adalah fantasi star creative, memang sedikit terdengar hiperbola apa yang tertulis dibaliho gedung Juang ini, namun ini mungkin keinginan besar yang dijadikan tujuan para creator komunitas fantasi star, kita tidak akan membahas permasalahan wacana tersebut tapi yang akan saya bahas haya sedikit pemaparan tentang pertunjukan yang di gelar oleh Fantasi Star.
Sabtu
malam 22 Februari 2014 gedung Juang Sukabumi kembali meriah setelah lama bisu
dari hingar-bingar seni pertunjukan, malam itu kelompok kabaret yang menamakan
diri Fantasi Star merayakan ulang tahunnya yang kedua, mereka mempertunjukan 3
komposisi pertunjukan, yang pertama tari modern dengan judul Dance Art Black
Swam, kedua Kabaret Newsies, dan ketiga musical Monster Rock, pertunjukan dibuka oleh seorang MC yang
berkelamin laki-laki dan berpakaian seperti wanita, tokoh ini cukup digandrungi
oleh para penonton yang notabene adalah sisa-siswi SMA di kota Sukabumi, dengan
keadaan panggung yang belum selesai seperti kain di wings dan backdrop anggung
yang masih kosong sedikit menggangu konsentrasi saat menyaksikan pertunjukan
pembukaan oleh fantasi star yaitu komposisi tari modern yang temanya diambil
dari film Black Swam, komposisi yang berlangsung sekitar tigapuluh menit ini
dibumbui dengan tata kostum yang menarik para penari yang didominasi oleh anak
perempuan usia SMA memperlihatkan kecintaannya terhadap jenis tari modern ini
dengan baik, sehingga rampak gerak yang mereka lakukan terlihat begitu baik,
pagelaran tari yang di pertunjukan diatas panggung dengan dekorasi besi besi
panggung yang diberi lampu warna-warni ini merupakan hasil karya Wendi
Widiarsyah. Wendi apik menyusun adegan tari dari satu bagian kebagian lainya
sehingga para penonton terlihat senang melihat pertunjukan tersebut.
Pertunjukan
kedua adalah kabaret yang diberi judul Newsies disutradarai oleh Muhamad Alvin
dan Llili Aminulloh, dalam catatn Fantasi Star naskah ini berkali-klai
mendapatkan penghargaan diantaranya : Cerita terbaik di FESSKAL, Koreografi
terbaik, Mixing terbaik, Aktor Terbaik, Kostum Terbaik di festival yang
diselenggarakan oleh Mahasiswa UPI. Sukabumi pada dasarnya memang sebuah kota
yang anak mudanya menggandrungi pertunjukan kabaret khususnya mereka yang
berada di bangku SMA, mereka sudah lama terhegemoni oleh dunia Kabaret dengan
bukti banyaknya komunitas teater SMA di kota Sukabumi yang memilih kiblatnya
yaitu Kabaret, ada dua Festival besar yang melombakan jenis pertunjukan kabaret
di kota Sukabumi yaitu FESSKAL dan FSTK, banyaknya guru mata pelajaran seni
yang memberikan tugas praktek kepada siswanya yaitu pertunjukan Kabaret.
Istilah kabaret berasal
dari sebuah kata berbahasa Prancis untuk ruangan bar atau cafe yang merupakan
tempat lahirnya hiburan ini, kata ini awalnya berasal dari bahasa Belanda
tengah “Cabret”, bahasa Prancis utara kuno “Camberrete dan dari bahasa latin
“camera” yang pada intinya meiliki makna “Ruangan kecil”, kabaret juga merujuk
ke rumah bordil gaya Mediterania, bar dengan meja-meja dan wanita-wanita yang
berbaur serta menghibur para pengunjung bar tersebut sering juga ditambah
dengan hiburan seperti tari-tarian tergantung
tempatnya masing-masing, sifatnya
dapat liar dan kasar
Catatan diatas merupakan sedikit
wacana mengenai sejarah dari nama kabaret sebelum berubah fungsi dan makna
seperti sekarang, di Jawa Bara Kabaret berkembang di Kota Bandung dan mungkin
lahirnya kabaret sebagai bentuknya sekarang ini terlahir dikota ini pula,
dcetuskan oleh kelompok kelompok mahasiswa bandung pada masa itu seperti
padihyangan dan yang lainnya, dan berkembanglah jenis kabaret ini seperti
sekarang. Kelompok-kelpompok kabaret di kota Sukabmi dan Bandung Sama
berkembang pesatnya sehingga beberpa Festival Kabart di Bandung seringkali di
juarai olh kelompok kabaret dari Sukabumi, sebuah pencapaian yang luar biasa
dari sebuah kota yang kini terlihat tabu dari seni tradisinya malah berkembang
di bentuk seni postmodernnya yaitu Kabaret.
Pada pertunjukanm malam ini, Fantasi
Star dan berkabaretnya sedikit merubah paradigma kabaret yag biasa dihadirkan
siswa siswi SMA Di kota Sukabumi, seperti adegan berpelukan yang berlebiha atau
adegan percintaan yang acapkali mengundang hasrat bagi para penontonnya atau
malah aktornya sendiri, Fantasi berusaha memetamorfosis diri sehingga tampilan
kabaret yang mengisahkan seorang penjual Koran di kota Newyork ini sedikit
mengalami anti klimaks di beberapa adegan di tengah pertunjukan mengakibatkan
penonton banyak terdiam tanpa berteriak histeris seperti biasanya penonton
kabaret di kota Sukabumi, namun setidaknya ini semua menurangi dampak
pragmatisasi dari kabaret itu sendiri, Kabaret menjadi sebuah industri budaya pragmatis yang
mengucilkan estetika teater yang sesungguhnya yang dibangun sejak lama, kabaret
merupakan proses pasif para penikmatnya, mereka mencoba menghindar dari
komleksitas sebuah pertunjukan seni teater yang merupakan tingkat kecerdasan
para penggiatnya, bentuk pragmatis ini mencoba menghindar dari tata artistik
yang baik dan tata pentas yang baik yang selalu terbangun dari pertunjukan
teater, kabaret amat sangat menurunkan setandarisasi pertunjukan seni teater
sesungguhnya, sehingga menimbulkan bentuk dangkal dalam sebuah seni
pertunjukan, ini semua demi mengejar kepragmatisan sebuah seni teater, mengejar
konsumsi publik, dan popularitas hingga menciptakan kapitalisme produk
kesenian, Inilah yang
dipandang oleh Adorno dan Horkheimer sebagai muslihat besar. Sebagai dosa masa
lalu atas kuasa rasio teknologi, individu justru kehilangan basis otonomi dan
kendali atas dirinya. Dengan “pencerahan” justru masyarakat diposisikan
seolah-oleh sebagai subjek, padahal mereka adalah objek dalam
perspektif ini, budaya tidak lagi lahir dari masyarakat sebagaimana yang
dipahami dalam konsep ”mass
culture,”
namun diproduksi dan direproduksi oleh kaum kapitalis atau penguasa dan pemilik
modal (borjuasi) untuk meraup keuntungan. Ilusi-ilusi yang mengiring semangat
(sprit) “pencerahan” sebagai ekspresi kebebasan atau emansipatoris justru
jangan dilihat secara kasat mata. Didalamnya penuh tendensi kepentingan, yaitu ekonomi
politik (baca: kekuasaan kelas borjuasi).
Dibalik
pandangan tersebut jasa besar kelompok ini untuk mengembangkan seni pertunjukan
telah terukir di kota yang dulunya dihuni oleh bentuk bentuk teater adiluhung
seperti Uyeg yang dikembangkan oleh Anis Djati Sunda, dan juga tempat para
kelompok teater yang mendiami kota ini sebelumnya seperti Sri Asih, Rawayan,
Teater Juang, Bengkel Seni Sukabumi dan lainya,
Perkembangan
seni pertunjukan memang dinamis, namun bagaimana kita menyingkapinya dengan baik,
sehingga bentuk dinamis ini tetap katarsis tidak menjadi pragmatis.
ACHMAD DAYARI
Mahasiswa
Pascasarjana
Jurusan
Pengkajian Seni Pertunjukan
Sekolah
Tinggi Seni Indonesia Bandung
Minggu, 12 Januari 2014
Naskah Monolog Sederhana EPISODE TERAKHIR SANG PEMIMPI
EPISODE TERAKHIR SANG MIMPI
Oleh Achmad Dayari
(Seorang
wanita bernyayi sambil memeluk boneka plastik) nina bobo oh nina bobo kalau
tidak bobo digigit nyamuk… (nada nya
lebih tinggi) nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk… (nada semakin tinggi) nina bobo oh nina
bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk
Itulah nyayian paling merdu yang
pernah aku dengar, dulu ketika aku kecil, setiap aku akan tertidur emak selalu
saja menyanyikan lagu itu walau emak bukan keturunan sinden namun suaranya amat
sangat merdu, sambil bernyayi emak selalu berkata, “Mimpilah yang indah neng
dan wujudkan esok pagi”, kata itu selalu terngiang ditelingaku, hingga kini
selalu aku ingat kata-kata itu hingga setiap hari aku bermimpi dan mimpi itu
selalu saja indah, ini semua berkat emak, kata-kata emak seraya menjadi doa
untuk ku, hingga setiap hari aku terus-terusan bermimpi dengan segala
keindahannya, dalam mimpi-mimpi itu tak pernah ada keburukan, hingga sering
sekali aku tak pernah mau terbangun dari mimpiku sangking indahnya mimpi itu
Tapi itulah kesalahan emak
paling besar, kesalahan yang sudah mengutukku sepanjang hidup, aku tak bisa
pergi dari kutukan ini, emaklah penyebab semuanya, emaklah yang pantas
disalahkan, kata-katanya memang manis, tapi maknanya benar-benar pahit, waktu
kecil aku selalu dibuai oleh mimpi-mimpi dan mimpi, setiap hari mimpi dan mimpi
lagi, sekarang baru aku sadari mimpi-mimpi itulah yang manjadikan aku seperti
ini.
Kini aku sadar dan tahu semua
ini adalah kutukan, berbelas tahun lalu aku dibuai seorang ibu tua untuk bermimpi
yang tinggi dan wujudkan lah, itu lah kata-katanya yang menjelma hadist
ditelingaku, hingga setiap hari aku bermimpi tentang ini dan itu, tentang
dunia, tentang masa depan, tentang semuanya keindahan hidup ketika semua keindahan
itu tak pernah menyapaku saat aku kanak-kanak, tapi itu tidak pernah membuatku
menyerah untuk terus bermimpi. Aku bermimpi dan terus menerus menunggu mimpi
itu terwujud, emak bilang besok pagi, tapi saat matahari terbit beribu kali,
mimpiku tak pernah ada yang terwujud, semuanya dusta, hanya wacana belaka.
Akupun berpikir bagaimana cara
mewujudkan mimpi itu, apapun caranya akan aku wujudkan mimpiku tentang segala
keindahan hidup ini, maka aku lakukan berbagai cara untuk mewujudkan
mimpi-mimpiku, yah karena ini mimpiku harus aku wujudkan, dan akhirnya aku
gapai mimpi itu aku wujudkan semuanya aku berhasil menggapai kindahan hidup ku
dapatkan segala yang aku inginkan, aku memiliki segalanya, mimpiku terwujud
Tapi ternyata bukan ini yang aku
mau, bukan kesenangan yang aku mau, aku ingin kebahagiaan, emak ternyata kau
salah tentang mimpi-mimpi ini, kau bohong mimpiku akan terwujud esok pagi,
setelah esok pagi, saat aku mencari cara untuk wujudkan mimpi ini ternyata kau
bohong mak, kau hanya berbohong, mimpi itu tidak pernah ada mak, kau
membohongiku dari semenjak aku kecil, hingga aku sekarang tumbuh besar saat aku
melihat semuanya ada dihadapanku ternyata aku tidak bahagia, kau tega mak
memberikan aku petuah setiap hari tentang mimpi, nyatanya kini keindahan yang
aku miliki mengorbankan segalanya dalam hidupku, mengorbankan semua yang ada
pada tubuhku,
kenapa kau cepat mati mak,
sebelum menjelaskan tentang mimpi-mimpi ini mak, dongeng-dongeng mu sebelum
tidur dulu adalah bualan besar yang menyiksaku, kau bohong mak, aku menyesal
mewujudkan mimpi-mimpi ini, aku lebih memimilih untuk tidak pernah memiliki
mimpi mak.
(Menagis) Kau telah meracuni ku dengan keindahan hidup yang harus
aku wujudkan, hingga ku terbuai didalamnya, dan sekarang aku mengerti mak, ternyata
mimpi paling buruk adalah ketika aku bermimpi dan tak pernah mau bangun dari
mimpi itu…
TERDENGAR SUARA
SEORANG LAKI-LAKI
“Cindy”
(tergesa-gesa bangun) ia sebentar…
26
Desember 2013 10:16
Kamis, 09 Januari 2014
CERITA ADE SUHANDA
CERITA
I
Kemajuan
ilmu dan teknologi yang semula bertujuan untuk mempermudah pekerjaan
manusia, tetapi kenyataannya telah menimbulkan keresahan dan
ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Ibarat cerita raja midas yang
menginginkan setiap yang disentuhnya menjadi emas, ternyata ketika
keinginan dikabulkan dia tidak semakin senang tetapi justru menjadi
sebaliknya.
John
Naissbitt mengatakan bahwa, era informasi menimbulkan gejala mabuk
teknologi, yang ditandai dengan beberapa Indikator, yaitu; 1)
Masyarakat lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat; 2)
masyarakat takut dan memuja teknologi; 3) masyarakat mengaburkan
antara yang nyata dan yang semu; 4) masyarakat menerima kekerasan
sebuah hal yang wajar; 5) masyarakat mencintai teknologi dalam bentuk
mainan; 6) masyarakat menjalani kehidupan yang berjarak dan
terenggut.
Naisbitt
ingin mengingatkan bahwa, ketika manusia mulai memuja dan menjadikan
teknologi sebuah patron tunggal dalam menjalani kehidupan, maka yang
sebenarnya terjadi adalah, Ilmu itu telah kehilangan ruh
fundamentalnya, karena Ilmu telah mengeliminir peran manusia dan
menjadikan manusia sebagai budaknya.
Dengan
demikian, Ilmu memerlukan sebuah instrument agar mampu menempatkan
ilmu tetap pada tempatnya, dan instrument itu adalah filsafat.
filsafat yang kemudian mengembalikan ruh dan tujuan luhur Ilmu, agar
Ilmu tidak menjadi boomerang bagi kehidupan umat manusia. Di samping
itu, salah satu tujuan filsafat ilmu adalah mempertegas bahwa Ilmu
dan perkembangannya merupakan sebuah instrument, bukan Tujuan.
Kemajuan
Ilmu seiring perjalananya, membuat manusia ingin mendapatkan segala
apa yang diinginkan. Sehingga, kemajuan ilmu menjadi sebuah komoditas
untuk dapat meraih segala keinginanya secara instant.
CERITA II
Agama
dan ilmu dalam beberapa hal menunjukan perbedaanya, namun pada sisi
tertentu memiliki kesamaan. Agama lebih mengedepankan moralitas dan
menjaga tradisi yang sudah mapan (ritual) yang cenderung ekslusif,
dan subjektif. Sementara ilmu selalu mencari hal baru dan tidak perlu
terikat dengan etika progresif. Agama memberikan ketenangan dari segi
batin, karena ada janji kehidupan setelah mati. Sedangkan ilmu
memberi ketenangan dan sekaligus kemudahan bagi kehidupan di dunia.
Karena
bagi masyarakat beragama, walaupun Ilmu memiliki perbedaan yang
konfrehensif, baik dalam fase rohani dan fase kebutuhan jasmani, ilmu
adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dari nilai ketuhanan, karena
sumber ilmu yang hakiki adalah Tuhan, karena manusia hanya
menemukanya melalui pendekatan-pendekatan dan disiplin ilmu secara
tersistematis, dengan kemudian merekayasanya, dan menjadikanya sebuah
instrument penting dalam kehidupan. Karena manusia berbeda dengan
ciptaan Tuhan lainya, manusia diberikan daya pikir berbeda dengan
makhluk lainya. Daya pikir inilah yang kemudian menemukan teori-teori
ilmiah dan teknologi.
Dalam
waktu yang sama, antara manusia, daya pikir dan temuan-temuanya,
semua itu harus bertanggung jawab dalam balut transcendental,
tanggung jawab pada Penciptanya. Karena, daya pikir tersebut tidak
dapat dipisahkan dari keberadaan manusia sebagai ciptaan-Nya.
Sehingga, konsekuensi logisnya, manusia
Senin, 23 Desember 2013
Petas Longser "Bajoang" Hari Juang Siliwangi
Petas Longser "Bajoang" pada Hari Juang Siliwangi di palagan Bojong Kokosan Parungkuda Sukabumi, pada 8 Desember 2013, walau pada saat pertunjukan hujan turun rintik-rintik, para aktor longser Bumi sandiwara terus saja mengocok perut para penontonnya yang hampir keseluruhanya adalah anggota TNI yang pada malam itu memperingati Hari Juang Siliwangi yang jatuh pada tanggal 9 Desember 2013, Bumi Sandiwara mempertunjukan lakon "Bajoang" yang megisahkan aksi heroik 2 orang pemuda dan 1 orang nenek yang membela tanah airnya dari penjajah penjajah Belanda, dan para tokohnya adalah pemuda Indonesia, Sukma dan Rian, si Ema adalah Hilman Nurdiasyah, Belanda Achmad Dayari, Ari Irawandi, dan Denis, penata music Saryf Firdaus
Langganan:
Postingan (Atom)





