Minggu, 27 Oktober 2013

Tentang Seni Teater "UYEG" Sukabumi

PENGERTIAN TEATER
            Teater berasal dari kata Yunani “Theatron” yang artinya tempat atau gedung pertunjukan, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukan di depam orang banyak, namun teater selalu dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari kata Yunani kuno “Draomai” dari penjelasan diatas dapat disimpilkan bahwa istilah “Teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan sedangkan “Drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan, jadi teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan diatas panggung dan disaksikan oleh penonton jika drama adalah lakon dan teater adalah pertunjukan maka drama merupakan bagian atau salah satu unsur dari teater.
            Menurut Eko Santoso di Indonesia pada tahun 1920an belum muncul istilah teater yang ada hanya Tonil atau Sandiwara, Toneel berasal dari bahasa belanda “Het Tonnel”  istilah sandiwara konon ditemukan oleh Sri Paduka Mangkunegara VII dari Surakarta, kata Sandiwara berasal dari bahasa Jawa “Sandi” berarti Rahasia dan “Wara” atau “Warah” yang berarti Pengajaran menurut Ki Hajar Dewantara “Sandiwara” berarti Pengajaran yang dirahasiakan atau dilakukan dengan cara perlambangan Sampai pada masa Jepang dan awal kemerdekaan istilah sandiwara masih sangat popular istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah zaman kemerdekaan, sebelum teater-teater modern muncul, di Indonesia berkembang Teater-teater tradisi yang berkembang di masyarakat itu sendiri, tidak di dalam gedung pertunjukan atau istana, banyak seni teater tradisi yang dipertunjukan di halaman rumah atau di lapangan desa, seni teater ini terkontaminasi oleh dramaturgi barat yang menciptakan teater menjadi ekslusif di dalam gedung pertunjukan, seni teater pada masa dulu masih merakyat bersatu dengan rakyat, hingga cerita yang dipertunjukannyapun tidak jauh dari sisi kehidupan masyarakatnya, teater tradisi menajadi hiburan untuk menghilangkan penat para penontonnya pada masa itu, pertunjukan teater rakyat baiasanya bercirikan komedi dan karikatural, sehingga teater tradisi menjadi obat mujarab untuk menghilangkan penat para penontonnya. 





TEATER TRADISIONAL
            Sejarah teater Indonesia dimulai sejak sebelum zaman hindu, pada zaman itu, ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara-upacara ritual, teater taradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Pada saat itu yang disebut teater sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater belum merupakan bentuk kesatuan teater yang utuh, setelah melepaskan diri dari kaitan upacara, unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat.
            Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbeda-beda, tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tatacara dimana teater tersebut lahir. Di Jawa Barat memiliki banyak sekali ragam seni teater daerah, setiap bentuk kesenian ini memiliki bentuk dan tipe pertunjukan yang berbeda-beda, beberapa jenis teater rakyat yang ada di Jawa Barat menurut Jacob Sumardjo adalah Ubrug dari daerah Banten, topeng Banjet dari daerah Karawang, Bekasi, Cisalak (Bogor), Longser dari daerah Parahyangan (Subang, Bandung, dan sekitarnya) Sintren dari daerah Cirebon, Manoreh (Manorek) dari wilayah Ciamis, Ronggeng Gunung berkembang di daerah pantai wilayah Ciamis Selatan, Topeng Blantek terdapat di wilayah Jawa Barat bagian selatan dan Uyeg dari Sukabumi.













TEATER “UYEG” SUKABUMI
            Dilansir dari Duniaart.com kesenian Uyeg yang sudah hilang hampir 470 tahun kembali dipertunjukan di Gedung Pusat Kajian Islam (Islamic Center) lantai 2 jalan Veteran No. 3 Sukabumi pada tahun 2010 dalam acara sosialisasi hasil revitalisasi seni tradisional Uyeg dengan menampilkan cerita lawas yang berjudul Sadar Ditatar Siluman dengan sutradara Cece Suhanda dan para pelaku dari padepokan Rawayan pimpinan Wilang Sundakalangan.
            Uyeg Merupakan salah satu seni tradisi yang ada di daerah Sukabumi khususnya di daerah selatan yaitu di pesisir pantai pelabuhan ratu, kesenian teater rakyat ini sudah bisa di katakana puanah karena kesenian ini sudah lama sekali tidak dipertunjukan di Sukabumi ataupun daerah lainnya apalagi sepeninggalnya pak Anis Djati Sunda yang berhasil merevtalisasi seni teater rakyat ini hampir tidak ada lagi kelompik kesenian di Sukabumi  yang berinisiatif untuk mempertunjukan seni teater rakyat ini, menurut Wilang Sundakalangan kesenian teater rakyat ini sudah ada sejak masa kerajaan Sunda (Abad Ke 7 sampai 14) ketika itu digelar sebagai bagian dari ritual seren taun (Pesta panen) untuk menghormati Dewi Sri dan Guru Bumi namun terakhir kesenian ini ditampilkan pada tahun 1990 setelah Anis melakukan pengumpulan data pada orang-orang yang mau melestarikan Uyeg dari tahun  1978-1981, dari informasi yang diperoleh pada tahun 1854 sempat dipentaskan oleh ayah Akung dari generasi pertama yang mencoba mengangkat kesenian Uyeg, lalu oleh abah Ita sebagai generasi keempat sekitar tahun 1957-1960 yang mulai mengangkatnya kembali, sejak oleh ayah Akung sekitar tahun 1884 kesenian ini sudah berada di Sukabumi tapi mulai dicanangkan sebagai kesenian khas Sukabumi baru tahun 1981 oleh Anis Djatisunda
            Berdasarkan Hipotesis Anis Djati Sunda seni Teater Rakyat Uyeg merupakan satu bentuk teater rakyat Jawa Barat yang masih memiliki ciri-ciri dari pola struktur budaya nusantara yang mewarnai lambang tradisi megalitik, terbukti dengan masih digunakannya warna hitam dan putih pada kain yang disebut kelir, kain hitam putih ini merupakan simbol alam yaitu gambaran krisna-paksa (Hitam) dan Sukhla-Paksa (Putih) yakni terkait dengan alam yang memiliki dua unsur yang berbeda, bumi langit, atas bawah, laki-laki perempuan dan yang lainnya dan kata Uyeg memiliki filosofi bahwa Uyeg bersinonin dengan kata Oyag artina bergerak pada visualisasi pertunjuknnya kain kelir senantiasa digerak-gerakan saat pertunjukan sebagai simbol bahwa hidup itu terus bergerak, dinamis tidak setatis seperti pemikiran manusia.
            Anis Djatisunda sebagai tokoh yang berhasil merevitalisasi Uyeg Anis mencoba menyandingkan kesakralan seni teater rakyat ini dengan kemajuan teater modren, Anis memasukan dramaturgi barat dalam konsep pertunjuknnya, seperti tangga dramatik, dan tata artistis serta tata cahaya, namun semua itu memiliki batasan agar tidak merusak konsep sakral dari Uyeg itu sendiri. Seperti dalam naskah Uyeg yang Anis tulis inti cerita dari naskah ini adalahsadarnya dua orang jagoan yang juga penjahat setelah diberi nasihat oleh siluman dalam proses penampilannya banyak diselangi adegan humor.
            Bentuk pertunuukan Uyeg pada dasarnya mirip dengan pertunjukan seni teater rakyat Jawa Barat lainnya seperti longser, pada awal pertunjukan sekelompok nayaga mengawali pertunjukan dengan tetabuhan bedug dengan bunyi lambat yang semakin lama menjadi semakin cepat, bunyi-bunyi tersebut disusul dengan bunyi kendang dan alat gamelan lainnya serta bunyi teropet yang semakin memeriahkan suasana, seiring suara gamelan yang cepat sehelai kain yang berwarna hitam dan putih sebagai backdrop digetarkan, ketika aluanan musik melambat, munculah Raja Uyeg dari balik kelir dengan dandanan seperti raja dalam cerita pewayangan tapi memakai kaca mata hitam dan merokok kemudian raja Uyeg menjadi simbol alam Uyeg dan sang Rajapun memaparkan cerita Uyeg yang akan ditampilkan.
            Seni Teater Uyeg sama dengan teater rakyat yang lainnya perlu penelitian dan pelestarian lebih lanjut demi menambah khazanah kesenian teater di Indonesia, seni teater tradisi bisa menjadi sumber ide gagasan untuk penciptaan seni teater modern yang selama ini kian berkembang, seni teater tradisi memiliki ciri dan jatidiri yang mesti dikaji sehingga bisa dibaca juga pola pikir orang-orang pada masa itu, baik pola pikir berkesianannya atau pola pikir kehidupannya.   





Daftar Pustaka
Santoso, Eko. DKK, 2008, Seni Teater Jilid 1 untuk SMK, Jakarta: Departemen Pendidikan          Nasional
Sumardjo. Jacob. 1992, Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia,         Jakarta: PT Citra Aditya Bakti
Duniaart.com 

Nalan, S, Arthur. 2006, Teater Egaliter, Bandung: Sunan Ambu Press STSI Bandung

2 komentar:

  1. Mantep, harus terus di kembangkan, jangan sampai terkalahkan oleh budaya baru..

    http://inisukabumi.blogspot.com/2014/04/kesenian-tradisional-boles.html

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

silahka masukan komentar anda!