Selasa, 21 Februari 2012

TEATER CERMIN di Festival Teater Remaja Jawa Barat 3



TEATER CERMIN di Festival Teater Remaja Jawa Barat 3


FTR (Festival Teater Remaja) Tingkat Jawa Barat kembali di gelar, acara yang di perakarsai oleh keluarga mahasiswa teater(KMT) STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung ini di gelar untuk ketiga kalinya, acara yang di gelar di Gedung kesenian Sunan Ambu STSI jl. Buah Batu no 212 Bandung ini tampak lebih meriah dengan jumlah peserta yang semakin bertambah dari tahun ke tahunnya, jika jumlah perserta pada tahun 2010 berjumlah 20 pesrta maka tahun ini 2012 berjumlah 26 peserta perwakilan dari tiap Sekolah tingkat SMA,MA se derajat dari Kabupaten dan kota se-Jawa Barat,
FTR merupakan ajang festival teater tertinggi tingkat SMA di Jawa Barat hal tersebut bisa di lihat dari jumlah peserta dan media pertunjukan yang replesentatif, dari gedung, tata cahaya, dan lain-lain. FTR yang merupakan kegitatan dua tahunan dari KMT pada tahun ini terus mencoba berbenah diri, dari tahun sebelumnya, contoh saja dari sisi hadiah atau penghargaan bagi aktor laki-laki dan perempuan terbaik, hadiah yang ditawarkan adalah beasiswa berkuliah di STSI secara gratis melalui Bidik misi, hal ini secara tidak langsung menjadi penarik bagi siswa yang berlomba juga merupakan teknik jitu untuk pihak kampus dalam mempromosikan kampusnya.
Teater cermin SMA N 1 Cicurug Kab. Sukabumi yang merupakan juara pertama pada FTR 2010, kembeli mempersiapkan Produksinya untuk tahun 2012, pada tahun ini Cermin akan mempertunjukan naskah “Polos” karya dan sutradara Achmad Dayari. Sudah hampir tiga bulan cermin mempersiapkan pertunjukan untuk FTR 3,
Naskah polos merupakan bagian kedua dari naskah sebelumnya yaitu “Jampe-Jampe Harupat” cerita yang dikisahkan masih mengenai permainan anak-anak namun di dalam naskah ini di berikan sisipan cerita yang terinspirasi dari pertunjukan monolog Putu Wijaya yaitu “Jangan Menangis Indonesia” sebuah cerita mengenai seorang anak yang mencoba mencari kebenaran yang hakiki, seorang anak polos yang terus berusaha ingin tahu, namun keingin tahuannya ini terhalangi oleh budaya tabu yang dianut oleh orang-orang di sekitarnya termasuk nenek dan ibunya, yang tidak setuju dengan keinginan tahuan anak ini, memang hal yang ingin di ketahui oleh anak ini terlalu vulgar, yaitu ingin mengetahui apa yang di maksud dengan Vagina, namun pada hakeketnya seharusnya orang tua memberitahukan apa yang anaknya tanyakan, tentunya dengan cara yang benar, namun dalam cerita ini sang ibu dan nenek malah menyiksa anak tersebut, dan ayahnya memberitahukan dengan cara yang berputar-putar sehingga anak tersebut menjadi lebih bingung dan rasa ingin tahunya meninggi, hingga klimaks ada seorang guru yang memberitahukan secara gamblang apa vagina itu, namun mala petaka mengahampiri guru tersebut, dia menjadi di benci oleh kepala sekolah, nenek dan ibu dari anak tadi,ibu guru di usir dari kampungya di perjalanan pulang ibu di jegat dua perampok, dan terbunuh.
Secara tidak alangsung dari kisah ini di gambarkan bahwa kematian lebih baik dari kebenaran, padahal niat sang guru benar untuk menghentikan keingini tahuan anak tersebut, agar anak tersebut berhenti bertanya-tanya dan berhenti disiksa oleh ibu dan neneknya, dan tepat apa yang dikatakan Putu Wijaya, alangkah mahal suatu kebenaran jika untuk satu kata saja di perlukan satu nyawa manusia, pada kenyataannya kebenaran di negeri ini banyak yang ditutup tutupi, banyak hal yang sehaunya di berithukan namun hanya menjadi tabu belaka tanpa di ketahui kebenaranya,
Teater cermin Pertunjukan pada tgl 13 Februari 2012, dengan no urut 8 pada pukul 15.00 WIB, di beberapa minggu terakhir, teter cermin terus berusaha memperbaiki diri, mengasah kemampuanya agar menghasilkan pertunjukan yang baik nantinya, semoga teater cermin bisa memberikan tontonan yang menarik dan bermakna di FTR 3 ini.


Achmad Dayari (Sutradara dan penulis naskah)

1 komentar:

silahka masukan komentar anda!